Masyarakat di kota besar semakin meminati layanan jasa teman jalan sebagai alternatif untuk mendapatkan kehadiran fisik dan interaksi sosial di tengah padatnya aktivitas harian pada Selasa (14/4/2026). Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya rasa kesepian dan perubahan pola hubungan yang kini didominasi interaksi daring, dilansir dari Megapolitan.
Psikolog Virginia Hanny menjelaskan bahwa kemunculan bisnis jasa pendamping ini tidak lepas dari kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung dan didengar oleh sesamanya. Menurutnya, layanan tersebut mencerminkan adanya kekosongan emosional yang sulit terpenuhi secara alami dalam gaya hidup modern saat ini.
"Sehingga, layanan seperti ini muncul sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan sosial tersebut. Jadi, ini bukan sekadar tren, tapi juga mencerminkan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi," jelas Virginia saat dihubungi, Selasa (14/4/2026).
Meskipun kesepian menjadi faktor pendorong utama, Virginia mencatat bahwa motif pengguna sangat beragam, termasuk mereka yang hanya ingin menghindari rasa canggung saat menghadiri acara tertentu. Sebagian pengguna juga sekadar mencari pengalaman baru tanpa keterikatan emosional yang dalam.
"Beberapa tahun terakhir, banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesepian memang sangat meningkat terutama pada kalangan anak muda," kata dia.
Virginia mengingatkan bahwa interaksi berbayar ini hanya memberikan rasa lega dalam jangka pendek karena sifatnya yang transaksional dan tidak tumbuh secara organik. Setelah durasi layanan berakhir, perasaan sepi sering kali muncul kembali bagi penggunanya.
"Beberapa orang bisa jadi menggunakan jasa ini karena mereka ingin memiliki pengalaman baru, ingin memiliki teman baru untuk event tertentu, atau adanya perasaan canggung untuk membangun relasi baru yang terjadi secara langsung," ujarnya.
Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya ilusi kedekatan yang dapat memicu ketergantungan emosional jika pengguna tidak menyadari batasan profesional layanan tersebut. Kehangatan yang dirasakan selama pertemuan sering kali diproses secara berbeda oleh otak manusia.
"Ketika kita sedang menghabiskan waktu bersama orang lain, terutama mereka yang benar-benar hadir, mendengarkan dan responsif, kita tentunya akan merasa lebih ringan karena merasa benar-benar ditemani," jelasnya.
Virginia menekankan pentingnya interaksi otentik yang bersifat dua arah tanpa bergantung pada transaksi finansial untuk kesehatan mental jangka panjang. Hubungan alami tetap menjadi kebutuhan mendasar yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh jasa pendamping.
"Otak seseorang pun dapat memproses hal ini sebagai kedekatan, walaupun sebenarnya relasinya memiliki batasan yang jelas dan sifatnya transaksional," katanya.
Dia kembali memberikan penegasan bahwa setiap pengguna jasa harus menyadari perbedaan antara teman sungguhan dengan penyedia layanan profesional. Hal ini penting agar tidak terjadi kerancuan makna dalam membangun sebuah relasi.
"Padahal, relasi yang sehat biasanya bersifat dua arah, berkembang secara natural, serta tidak bergantung pada transaksi," ujarnya.
Interaksi yang otentik tetap menjadi tujuan akhir bagi setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat. Jasa pendamping hanyalah alat bantu sementara yang tidak bisa menambal kebutuhan batin selamanya.
"Karena, pada akhirnya kebutuhan kita bukan cuma untuk ditemani saja namun juga relasi dan interaksi yang otentik," jelasnya.
Seorang penyedia jasa teman jalan bernama Rosita alias Ita (30) menceritakan pengalamannya memulai bisnis ini melalui media sosial pada akhir tahun lalu. Berawal dari unggahan iseng di platform Threads, ia justru mendapatkan permintaan serius dari klien pertamanya.
"Ternyata ada yang nge-DM dan ternyata dia malah pengen ditemenin nongkrong, dia mau nyoba dulu nih "Kak ini beneran apa enggak". Terus yaudah," katanya saat berbincang dengan Kompas.com di wilayah Bekasi, Selasa.
Ita kemudian menyadari bahwa bisnis ini memiliki pangsa pasar yang luas setelah melihat banyaknya akun serupa bermunculan. Ia memutuskan untuk menekuni layanan ini secara serius setelah keluar dari pekerjaan lamanya.
"Karena dulu tuh bener-bener enggak tau gitu loh terus pas iseng buka (jasa), barulah mulai bermunculan akun-akun lain. Jasa teman jalan yang lain "oh ternyata jasa kayak gini tuh emang dibutuhin ya" akhirnya dari situ diseriusin," ujarnya.
Layanan yang diberikan Ita kini mencakup bantuan dokumentasi konten untuk klien yang ingin mengabadikan momen di media sosial. Meskipun tidak mencantumkan jasa penyuntingan secara resmi, ia sering memberikannya sebagai bonus layanan.
"Sebenernya aku tuh enggak pernah cantumin kalau aku bisa ngedit sih, cuma kalau misalnya dia request, ya kenapa enggak? Enggak apa-apa juga karena Jadi kadang aku suka ngasih free untuk dieditin 2-3 video," ujarnya.
Penyedia jasa ini juga kerap menerima permintaan unik, seperti hanya untuk difoto bersama agar klien terlihat sedang memiliki teman wanita di depan orang tua. Ita mematok tarif mulai dari Rp 50.000 per jam hingga ratusan ribu rupiah untuk perjalanan luar kota.
"Yang unik waktu itu pernah dia cuma minta waktuku cuma satu jam aja karena dia cuma mau foto sama aku aja karena dia butuh temen cewek untuk dia fotoin bareng gitu untuk ngasih tunjuk ke orangtuanya kalau dia lagi sama temen cewek gitu," ungkapnya.
Terkait keamanan, Ita menetapkan aturan ketat yang melarang adanya kontak fisik dengan klien selama menjalankan tugas. Ia tidak segan untuk bersikap tegas jika ada pengguna jasa yang mencoba melampaui batasan profesional tersebut.
"Kontak fisik enggak boleh, enggak punya pasangan. Kalau misalnya dia cowok entah itu pacar entah itu istri pokoknya yang penting enggak boleh punya pasangan," tegasnya.
Ita menceritakan salah satu insiden saat klien tetap mencoba menyentuhnya meski sudah mengetahui aturan yang berlaku. Kejadian tersebut membuatnya semakin waspada dalam menjaga koridor pekerjaannya.
"Jadi waktu itu dia Ini klien yang udah sering repeat mengajak nonton pas udah selesai bener-beber udah selesai lampu udah nyala nih dia agak kayak megang gitu," katanya.
Setelah memberikan teguran, Ita memastikan bahwa relasi dengan klien tersebut tetap berada di bawah kendali aturan yang telah disepakati sejak awal. Konsistensi dalam menjaga batasan menjadi kunci keberlangsungan jasanya.
""Enggak boleh Kak". Aku bilang gitu, kan udah tau kok enggak boleh," ujarnya.
Seorang pengguna jasa bernama Febrian (26) memilih layanan ini karena terbatasnya interaksi langsung selama bekerja dari rumah. Baginya, kehadiran orang lain saat makan di luar sudah cukup untuk mengobati rasa sepinya.
"Sederhana sebenarnya, cuma pengin ada teman makan di luar. Enggak ada acara besar atau apa, cuma pengin duduk, ngobrol, dan punya temen lah," kata Febrian lewat pesan WhatsApp, Selasa.
Sementara itu, Dita (24) menggunakan jasa teman jalan untuk membantunya mengeksplorasi lokasi baru sekaligus mempermudah proses pengambilan konten video. Keterbatasan waktu teman-temannya membuat jasa berbayar menjadi solusi yang praktis.
"Lebih ke nemenin aku eksplor beberapa tempat sekaligus bantu ambil konten. Tapi yang paling utama sebenarnya biar ada yang nemenin aja, jadi enggak sendirian," kata dia saat dihubungi, Selasa.
Naila (27), seorang pendatang baru di Jakarta, mengaku terbantu dengan adanya jasa ini saat harus menghadiri resepsi pernikahan tanpa pendamping. Kondisi lingkungan kerja yang baru membuatnya belum memiliki sahabat dekat di ibu kota.
"Waktu itu aku baru sekitar dua bulan pindah ke Jakarta karena kerjaan. Lingkungannya masih baru, teman dekat juga belum ada," katanya saat dihubungi, Selasa.
Naila merasa kurang nyaman jika harus berada di tengah keramaian acara formal tanpa ada rekan untuk berbincang. Ia menilai kehadiran teman jalan membuatnya lebih percaya diri saat berinteraksi dengan tamu lainnya.
"Sebenarnya sederhana sih, cuma pengin ada teman ngobrol, biar enggak terlihat sendirian dan lebih nyaman aja selama di sana," ujarnya.
Kebutuhan untuk terlihat tidak sendirian di tengah kelompok orang yang berpasangan menjadi alasan situasional yang lazim ditemui. Hal ini mencerminkan tekanan sosial yang masih dirasakan oleh sebagian masyarakat perkotaan.
"Semua orang kan datang berpasangan atau berkelompok, jadi kalau sendirian tuh kayak gimana ya, bukan berarti enggak bisa, tapi ya kurang nyaman aja," kata dia.