Sejumlah pengendara di Jakarta memilih jasa cat duco pinggir jalan sebagai alternatif perbaikan bodi kendaraan yang lebih terjangkau dibandingkan bengkel resmi pada Rabu (13/5/2026). Layanan informal ini menggunakan teknik pengecatan berbahan nitrocellulose (NC) yang menawarkan kecepatan durasi pengerjaan bagi pemilik mobil maupun motor.
Fenomena menjamurnya jasa perbaikan ini terlihat di ruas jalan seperti Kramat Raya dan Salemba, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Tingginya minat masyarakat dipicu oleh selisih harga yang signifikan, di mana perbaikan lecet ringan di bengkel resmi dapat mencapai jutaan rupiah, sementara jasa pinggir jalan mematok tarif ratusan ribu rupiah.
"Kalau di bengkel resmi bisa jutaan. Di sini orang cari cepat sama murah," ujar Asep, pelaku jasa cat duco di Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Pria yang telah menekuni profesi ini selama 26 tahun tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar pelanggannya datang demi efisiensi biaya. Fokus utama mereka adalah mengembalikan kerapian tampilan kendaraan agar layak digunakan kembali di jalan raya.
"Yang penting rapi dulu buat dipakai jalan," katanya.
Rian Saputra, seorang pengemudi ojek online, mengaku lebih memilih mengeluarkan biaya sekitar Rp 300.000 untuk memperbaiki motornya di kawasan Matraman. Baginya, kecepatan waktu pengerjaan menjadi faktor krusial karena kendaraan tersebut merupakan sarana utama untuk mencari nafkah harian.
"Kalau di bengkel resmi saya pernah tanya bisa di atas Rp 1 juta. Padahal lecetnya dan rusaknya enggak parah," ujar Rian Saputra, pengemudi ojek online.
Kebutuhan akan hasil yang instan membuat Rian mengesampingkan kualitas hasil akhir yang mungkin tidak sesempurna standar bengkel pabrikan. Ia mementingkan aspek fungsionalitas agar motornya tidak terlihat rusak saat digunakan bekerja.
"Kalau saya kerja narik tiap hari, pengeluaran juga banyak. Jadi cari yang penting masih bagus dilihat dan enggak terlalu mahal," katanya.
Aspek kecepatan ini juga menjadi alasan bagi para pekerja di sektor transportasi umum lainnya. Rian menekankan bahwa kepastian waktu pengambilan kendaraan sangat memengaruhi produktivitasnya sebagai mitra ojek online.
"Pagi masuk, sore bisa diambil. Buat saya itu penting karena motor dipakai kerja," ujar Rian Saputra.
Senada dengan Rian, Kurniawan yang bekerja sebagai sopir mobil rental rutin memanfaatkan jasa ini untuk menangani kerusakan kecil pada armada operasionalnya. Ia menilai kebijakan biaya di bengkel resmi yang sering kali menghitung perbaikan berdasarkan panel kendaraan terasa memberatkan untuk sekadar baret tipis.
"Kalau tiap lecet masuk bengkel resmi bisa habis banyak," kata Kurniawan, sopir mobil rental.
Fleksibilitas harga menjadi keunggulan utama yang dirasakan oleh pengguna jasa informal di kawasan Matraman ini. Kurniawan mengungkapkan bahwa proses negosiasi harga masih sangat mungkin dilakukan di bengkel-bengkel kecil rekanan para pencari pelanggan tersebut.
"Kadang cuma baret sedikit, tapi hitungannya satu panel. Bisa jutaan," ujar Kurniawan.
Pria asal Bekasi ini biasanya menghabiskan biaya antara Rp 500.000 hingga Rp 700.000 untuk perbaikan ringan. Meski memahami adanya perbedaan standar kualitas, ia merasa hasil pengerjaan tukang cat pinggir jalan sudah cukup membantu kebutuhan operasional kantornya.
"Di sini lebih fleksibel. Bisa nego juga," katanya.
Kepuasan pelanggan ini didasari pada pemahaman realistis mengenai perbandingan harga dan kualitas. Kurniawan menyadari bahwa material yang digunakan di pinggir jalan tidak bisa disejajarkan sepenuhnya dengan fasilitas bengkel besar.
"Memang enggak bisa disamain sama bengkel resmi. Tapi buat kebutuhan cepat ya membantu," kata Kurniawan.
Di sisi lain, para pekerja lapangan seperti Luhur harus bersaing ketat untuk mendapatkan pelanggan di tengah kemacetan Jakarta. Sistem kerja mereka terbagi antara pencari konsumen di bahu jalan dan teknisi yang mengeksekusi pengecatan di bengkel fisik terdekat.
"Kalau ada yang berhenti baru kita jelasin," ujar Luhur, pekerja cat duco pinggir jalan.
Luhur menceritakan perjalanannya memulai profesi ini dari tingkat paling dasar sebagai pembantu proses pengamplasan. Pengalaman bertahun-tahun di jalanan membuatnya paham betul dinamika lapangan, termasuk fluktuasi jumlah pelanggan setiap harinya.
"Awalnya ikut teman. Lama-lama belajar nyemprot cat, terus sekarang ikut cari customer juga," kata Luhur.
Ketatnya persaingan antarpelaku jasa menjadi tantangan tersendiri bagi pria yang sudah bekerja selama 10 tahun ini. Dalam satu titik jalan, sering kali terdapat banyak individu yang mengincar kendaraan dengan kerusakan fisik yang sama.
"Kadang sehari bisa dapat dua sampai tiga mobil. Kadang seminggu kosong," katanya.
Ketegangan antarsesama penyedia jasa juga kerap terjadi saat arus kendaraan melambat. Mereka harus sigap melambaikan tangan agar calon konsumen memilih bengkel rekanan mereka dibandingkan kompetitor lainnya.
"Kadang rebutan customer juga. Siapa cepat dia dapat," ujar Luhur.
Selain persaingan, risiko kesehatan akibat paparan bahan kimia tanpa alat pelindung diri yang memadai juga menjadi ancaman nyata. Para pekerja sering kali mengabaikan prosedur keselamatan demi kenyamanan saat bekerja di cuaca yang panas.
"Kalau habis nyemprot cat lama biasanya kepala pusing," ujar Luhur.
Maman, pelaku jasa lainnya, menyebut bahwa sektor ekonomi informal ini merupakan warisan krisis ekonomi yang terus bertahan melintasi zaman. Keterbatasan modal menjadi penghalang utama bagi para terampil ini untuk memiliki bengkel formal yang mapan.
"Dari dulu sudah ada. Pas zaman krisis 1998 makin banyak orang turun ke jalan cari kerja begini," ujar Maman, pelaku jasa cat duco.
Maman menjelaskan bahwa keahlian para pekerja di sektor ini didapatkan secara turun-temurun melalui praktik langsung. Ia melihat fenomena ini sebagai tumpuan hidup bagi masyarakat yang sulit menembus pasar kerja formal.
"Kalau buka bengkel sendiri berat modalnya," tutur Maman.
Proses belajar otodidak dimulai dari penguasaan teknik dasar hingga ke tahap finishing yang lebih rumit. Keterampilan ini menjadi aset utama bagi para pekerja yang rata-rata berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
"Belajarnya dari bawah. Dari amplas, dempul, sampai ngecat," katanya.
Pengamat ekonomi Indef, M Rizal Taufikurahman, berpendapat bahwa pertumbuhan jasa informal ini selaras dengan besarnya basis kendaraan di Jakarta. Tekanan daya beli masyarakat membuat layanan yang menawarkan harga miring selalu memiliki pangsa pasar yang stabil.
"Jasa informal menang pada harga dan kecepatan. Dalam kondisi daya beli tertekan, banyak konsumen lebih memilih layanan yang cukup rapi dan murah," ujar M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Data BPS menunjukkan terdapat sekitar 1,98 juta pekerja informal di Jakarta hingga Februari 2026. Rizal menilai rendahnya hambatan masuk menjadi faktor utama usaha ini terus berkembang sebagai solusi mandiri masyarakat dalam menciptakan lapangan kerja.
"Ketika sektor formal tidak cukup menyerap tenaga kerja, banyak orang masuk ke usaha mandiri berbasis keterampilan," kata Rizal.
Keterampilan teknis dan jaringan antar bengkel menjadi modal sosial yang kuat bagi kelangsungan usaha ini. Rizal menekankan bahwa efisiensi biaya adalah daya tarik utama yang sulit ditandingi oleh sektor formal bagi kelompok konsumen tertentu.
"Yang penting punya keterampilan dasar dan jaringan bengkel," ucap Rizal.
Pengamat otomotif Bebin Djuana menambahkan bahwa konsumen jasa ini biasanya adalah mereka yang kendaraannya tidak terlindungi asuransi. Faktor urgensi agar tidak mendapat teguran dari atasan atau pemilik kendaraan juga turut mendongkrak popularitas jasa pinggir jalan ini.
"Cat duco pinggir jalan itu sudah lama berlangsung, bukan tren baru," ujar Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.
Bebin mengamati bahwa efisiensi waktu menjadi nilai tambah yang paling dicari oleh konsumen instan. Proses di bengkel body repair resmi yang cenderung birokratis dan memakan waktu lama sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan mendesak pemilik kendaraan.
"Ada saja konsumen yang membutuhkan layanan perbaikan bodi kendaraan secara instan, jauh lebih cepat dari bengkel body repair," kata Bebin.
Ia menyoroti bahwa banyak pemilik kendaraan operasional yang memanfaatkan layanan ini untuk menutupi kerusakan kecil dengan segera. Langkah ini diambil untuk menghindari sanksi atau konflik akibat kelalaian saat mengemudi.
"Biasanya yang memanfaatkan jasa perbaikan pinggir jalan itu mereka yang kendaraannya tidak dilindungi asuransi," ujarnya.
Bebin juga mengingatkan adanya korelasi langsung antara biaya yang dibayarkan konsumen dengan kualitas material yang digunakan. Meskipun banyak tukang cat memiliki keahlian mumpuni, mereka terpaksa menyesuaikan bahan baku dengan anggaran terbatas dari pelanggan.
"Kadang sopir takut kena marah bos karena kendaraan lecet atau serempetan di jalan, jadi pilih perbaikan cepat dan murah," kata Bebin.
Keterbatasan fasilitas teknis sering kali membuat hasil pengecatan tidak seoptimal standar industri otomotif global. Namun bagi sebagian besar penggunanya, hal tersebut dianggap sebagai kompromi yang wajar dalam bertransaksi di sektor informal.
"Sebetulnya ada juga tukang cat yang punya pengalaman dan keterampilan cukup baik," kata Bebin.
Kecenderungan konsumen untuk menekan harga serendah mungkin berdampak pada pemilihan bahan baku oleh para teknisi. Hal ini menjadi realitas ekonomi yang harus dihadapi dalam ekosistem jasa cat di tepi jalan Jakarta.
"Sering kali konsumen menekan biaya hingga akhirnya memakai material kualitas rendah. Ada harga, ada barang," tutur Bebin.
Sosiolog UNJ Rakhmat Hidayat memandang fenomena ini sebagai bentuk strategi bertahan hidup masyarakat kota di tengah keterbatasan penyerapan tenaga kerja formal. Ia menyarankan adanya langkah pembinaan daripada sekadar tindakan penertiban yang berulang.
"Akibatnya masyarakat menciptakan strategi bertahan hidup melalui ekonomi informal yang fleksibel dan murah," ujar Rakhmat Hidayat, Sosiolog UNJ.
Rakhmat berpendapat bahwa kendaraan di kota besar telah bergeser fungsi dari sekadar transportasi menjadi representasi identitas sosial. Keinginan untuk menjaga penampilan kendaraan dengan biaya minim menciptakan ceruk pasar yang terus hidup bagi jasa cat duco.
"Kendaraan bukan hanya alat transportasi tetapi juga simbol status sosial," katanya.
Ia menekankan pentingnya integrasi para pelaku usaha informal ini ke dalam ekosistem UMKM yang lebih tertata. Pendekatan sosiologis diperlukan untuk memahami akar masalah ekonomi yang mendorong mereka turun ke jalan raya.
"Kalau hanya ditertibkan, akar masalah ekonominya tidak selesai," kata Rakhmat.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri melalui Dinas Lingkungan Hidup menegaskan bahwa aktivitas usaha di trotoar melanggar Perda Nomor 8 Tahun 2007. Penertiban rutin terus dilakukan oleh Satpol PP meskipun aktivitas tersebut tetap muncul kembali di lokasi yang sama.
"Kegiatan cat duco pinggir jalan pada umumnya tidak sesuai ketentuan," ujar Yogi Ikhsan, Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Purnama Hasudungan Panggabean mengakui bahwa penertiban sering kali berakhir dengan aksi kucing-kucingan antara petugas dan pedagang. Ia menyadari perlunya solusi kolaboratif untuk memberikan ruang bagi para pekerja dalam mencari nafkah tanpa melanggar ketertiban umum.
"Sering dilakukan penertiban sama Satpol PP Kecamatan Senen. Tapi seperti kucing-kucingan," ujar Purnama Hasudungan Panggabean, Kepala Satpol PP Jakarta Pusat.
Penataan yang lebih terintegrasi diharapkan dapat menjadi jalan tengah bagi perlindungan hak pejalan kaki dan keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil. Saat ini koordinasi antarinstansi diperlukan guna mencari lokasi yang lebih layak bagi kegiatan usaha tersebut.
"Memang perlu kolaborasi untuk menampung mereka supaya bisa mencari nafkah di tempat yang lebih tertata," kata Purnama.