Kawasan Asia Tenggara sedang mempersiapkan lompatan besar dalam aspek konektivitas antarnegara. Dilansir dari Detik Travel, Malaysia secara resmi menjalin kerja sama dengan Thailand, Singapura, dan Vietnam untuk menghadirkan jaringan kereta cepat (HSR) yang terintegrasi pada tahun 2026.
Proyek ambisius ini dirancang untuk memperpendek waktu tempuh lintas negara sekaligus memperkokoh ikatan ekonomi di wilayah Asia Tenggara. Namun, Indonesia tercatat tidak menjadi bagian dalam pembangunan jaringan transportasi rel cepat ini.
Proyek Kereta Cepat Kuala Lumpur-Singapura (KL-SG HSR) kini memasuki fase baru setelah sempat terhenti pada 2021. Di bawah kendali Perdana Menteri Anwar Ibrahim, proyek ini dijalankan melalui skema Kemitraan Pemerintah-Swasta (PPP).
Rute ini akan menghubungkan Bandar Malaysia di Kuala Lumpur dengan Jurong East di Singapura. Waktu perjalanan yang biasanya memakan waktu lama akan dipangkas secara signifikan menjadi hanya 90 menit saja.
Infrastruktur rel sepanjang 350 km tersebut dirancang untuk mendukung kecepatan kereta hingga 300 km/jam. Operasionalnya akan menggunakan sistem persinyalan canggih bernama European Train Control System (ETCS).
Kemajuan Proyek RTS Link
Selain jaringan HSR, Malaysia dan Singapura juga menunjukkan perkembangan positif pada proyek Rapid Transit System (RTS) Link. Jalur penghubung ini ditargetkan mulai beroperasi secara penuh pada akhir tahun 2026.
Jalur sepanjang 4 km tersebut diproyeksikan mampu melayani mobilisasi hingga 10.000 penumpang setiap jamnya. Rute ini menghubungkan kawasan Bukit Chagar di Johor Bahru dengan Woodlands North di Singapura.
Para penumpang nantinya akan mendapatkan kemudahan melalui fasilitas CIQ (Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina) yang terintegrasi. Sistem satu lokasi ini memungkinkan seluruh proses administrasi imigrasi tuntas sebelum penumpang berangkat.
Ekspansi Rel di Thailand dan Vietnam
Thailand dan Vietnam turut memperkuat struktur logistik mereka di kawasan. Thailand tengah fokus pada pembangunan HSR Thailand-China yang akan menyambungkan wilayah Nakhon Ratchasima menuju Nong Khai di perbatasan Laos pada 2031.
Terdapat pula rencana restorasi jalur kereta Sungai Kolok-Rantau Panjang yang dijadwalkan terhubung dengan East Coast Rail Link (ECRL) Malaysia pada 2027. Langkah ini memperluas jangkauan transportasi darat di semenanjung Malaya.
Sementara itu, Vietnam tengah bersiap melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking jalur Kereta Cepat Utara-Selatan pada akhir 2026. Jalur sepanjang 1.500 km ini akan menghubungkan kota Hanoi dengan Ho Chi Minh City.
Kehadiran proyek ini akan mengubah peta perjalanan domestik Vietnam secara drastis. Durasi perjalanan dari ujung utara ke selatan yang semula membutuhkan waktu 32 jam akan menyusut menjadi hanya 5 jam perjalanan.