Sebanyak empat emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni ADMF, ROTI, CNMA, dan BNLI dijadwalkan memasuki masa cum date dividen mulai Selasa, 14 April 2026. Momentum ini menjadi peluang bagi para investor untuk mendapatkan keuntungan dari pembagian laba perusahaan dengan tingkat dividend yield hingga mencapai 9,9 persen.
Dilansir dari Stocksetup, periode musim pembagian dividen saat ini masih terbuka lebar bagi para pemegang saham. Hal tersebut dikarenakan masih banyak emiten yang belum mencapai batas akhir periode cum date, sehingga memungkinkan pelaku pasar untuk menyusun strategi investasi yang lebih matang.
Kondisi pasar yang tengah berada dalam tren pembagian dividen ini disarankan untuk dimanfaatkan dengan metode akumulasi secara bertahap. Penekanan utama sebaiknya diarahkan pada perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental kuat serta menawarkan imbal hasil dividen yang kompetitif bagi para pemegang sahamnya.
"Biasanya, harga saham cenderung naik menjelang cum date, lalu turun saat ex-date. Jadi ini bisa menjadi momentum yang baik untuk mulai masuk," ujar Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Dalam menghadapi volatilitas pasar, investor dapat menerapkan taktik pembelian saham sebelum tanggal cum date dan melakukan pelepasan aset saat harga menyentuh nilai tertinggi. Langkah ini bertujuan untuk mendapatkan keuntungan ganda, baik dari kenaikan harga saham maupun dari jatah dividen yang akan dibagikan.
Selain strategi jangka pendek, pemilihan saham dengan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten juga menjadi pilihan bagi mereka yang berorientasi pada investasi jangka menengah hingga panjang. Kendati demikian, ketelitian dalam memilih emiten tetap menjadi prioritas utama guna menghindari risiko kerugian di masa depan.
"Hindari saham dengan dividen besar tetapi laba menurun atau payout ratio terlalu tinggi karena berisiko menjadi dividend trap," jelas Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Besaran angka dividend yield diingatkan agar tidak menjadi satu-satunya indikator dalam pengambilan keputusan investasi. Rasio pembayaran dividen yang terlalu tinggi di tengah penurunan laba bersih perusahaan berpotensi menjebak investor dalam fenomena penurunan harga saham yang tajam setelah periode cum date berakhir.