Dosen Fakultas Peternakan IPB University Dr Muhamad Baihaqi mengingatkan pentingnya penanganan hewan kurban yang higienis untuk menjaga kualitas daging tetap aman dikonsumsi masyarakat pada Rabu (26/5).
Dilansir dari Media Indonesia, proses penyembelihan dan pengolahan hewan kurban di lapangan dinilai masih kerap dilakukan di ruang terbuka dengan standar sanitasi yang minim sehingga meningkatkan risiko kontaminasi mikroba pada daging.
"Penyembelihan dan pengolahan sering dilakukan di tempat terbuka tanpa standar sanitasi yang baik, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi mikroba," ujarnya, Rabu (26/5).
Pemisahan area kotor seperti lokasi penyembelihan dan pengulitan dengan area bersih untuk pemotongan serta pengemasan daging perlu dilakukan oleh panitia kurban. Langkah tersebut dinilai penting guna menekan potensi pencemaran mikroba selama proses pengolahan berlangsung.
Praktik pengemasan yang masih mencampurkan daging dengan jeroan dalam satu wadah juga menjadi sorotan karena kondisi tersebut dapat mempercepat kontaminasi dan menurunkan kualitas daging.
"Daging sering kali dicampur dengan jeroan saat dikemas. Ini berisiko tinggi karena jeroan dapat mempercepat kontaminasi," katanya.
Pemotongan daging yang telah selesai disarankan untuk segera dibagikan kepada masyarakat penerima manfaat. Baihaqi mengimbau para penerima daging kurban agar memisahkan daging dari jeroan dan tulang, kemudian membersihkan dan menyimpannya di freezer apabila belum akan diolah.
Kondisi ternak sebelum disembelih turut memengaruhi kualitas daging, sehingga penggunaan transportasi yang layak, pemberian pakan dan minum yang cukup, serta waktu istirahat perlu diperhatikan untuk mengurangi stres pada hewan.
Distribusi daging kurban juga perlu dilakukan secara cepat karena umumnya tidak melalui proses pendinginan, sebab daging berisiko mengalami penurunan kualitas jika terlalu lama berada di suhu ruang.
Sejumlah lembaga kurban saat ini mulai mengembangkan inovasi pengolahan daging menjadi produk siap saji seperti rendang atau dendeng kaleng, meskipun cara tersebut membutuhkan biaya dan peralatan lebih besar dibanding pembagian daging mentah.
"Penanganan yang baik tidak hanya menjaga kualitas daging, tapi juga menjadi bagian dari ibadah yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab," tuturnya.