Aksi jual oleh investor asing terus menekan pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data periode 11 hingga 13 Mei 2026, emiten tambang ini menjadi salah satu aset yang paling banyak dilego.
Dikutip dari Investor Daily, nilai transaksi jual bersih atau net sell asing pada saham BUMI mencapai Rp 104,8 miliar selama sepekan terakhir. Data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan penjualan tersebut terkonsentrasi di pasar reguler.
Performa harga saham BUMI tercatat fluktuatif namun cenderung melemah secara akumulatif. Pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026), harga saham BUMI memang naik tipis 0,9% ke level Rp 214 per lembar.
Meski demikian, dalam rentang sepekan terakhir harga saham BUMI sudah terkoreksi sebesar 6,9%. Penurunan lebih dalam terlihat pada periode bulanan yang anjlok 13% serta kinerja year to date (ytd) yang ambles hingga 41,5%.
Tekanan jual tidak hanya terjadi pada BUMI, melainkan melanda pasar modal secara keseluruhan. Selama periode 11-13 Mei 2026, investor asing mencatatkan net sell total senilai Rp 3,2 triliun di seluruh pasar BEI.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pencapaian pekan sebelumnya yang sempat membukukan transaksi beli bersih sebesar Rp 12,2 triliun. Khusus pada Rabu (13/5/2026), aksi jual bersih asing mencapai Rp 1,53 triliun.
Hingga saat ini, total net sell investor asing sepanjang tahun berjalan telah membengkak menjadi Rp 40,8 triliun menurut data BEI. Fenomena ini menandai tantangan berat bagi arus modal masuk ke pasar domestik.
Analisis Fundamental dan Strategi Diversifikasi
Meskipun sedang dihantam aksi jual, analis MNC Sekuritas Raka Junico menilai prospek BUMI masih memiliki sisi positif. Harga komoditas utama seperti batu bara dan emas yang masih tinggi seharusnya memberikan dukungan bagi sentimen perusahaan.
"Apalagi, perusahaan juga memiliki rekam jejak efisiensi operasional yang sudah cukup teruji dalam beberapa tahun terakhir," ujar Raka.
Raka meyakini BUMI mampu menyeimbangkan target EBITDA dari sektor batu bara dan non-batu bara pada tahun 2031. Perusahaan dinilai sangat agresif dalam melakukan transformasi menjadi entitas tambang multi-komoditas melalui berbagai aksi akuisisi.
Beberapa langkah strategis yang telah dilakukan meliputi akuisisi saham tambang konsentrat tembaga Wolfram dan tambang emas Jubilee. Selain itu, BUMI juga memiliki rencana untuk mengakuisisi Loyal Metals, sebuah perusahaan tambang asal Australia.
Strategi diversifikasi anorganik ini dianggap sebagai langkah jangka panjang untuk memitigasi risiko fluktuasi harga batu bara. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat stabilitas serta kualitas laba perusahaan dalam jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi kinerja keuangan, BUMI mencatatkan pertumbuhan signifikan pada kuartal I-2026. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$ 28,1 juta atau tumbuh 35,2% dibandingkan periode sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan perusahaan yang mencapai US$ 417,7 juta. Angka pendapatan ini mengalami peningkatan sebesar 19,7% secara tahunan.