Investor asing mencatatkan transaksi jual bersih atau net sell pada sejumlah saham saat Indeks Harga Saham Gabungan melemah pada Rabu, 20 Mei 2026. Berdasarkan data Stockbit yang dilansir dari Investor Daily, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup merosot 52,18 poin atau 0,82 persen ke level 6.318,5.
Aksi lepas saham oleh investor asing paling banyak menyasar PT Bank Central Asia Tbk dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp 375,7 milar. Posisi tersebut diikuti oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan net sell Rp 221 miliar dan PT Chandra Asri Pacific Tbk sebesar Rp 140,5 miliar.
| Peringkat | Nama Perusahaan | Nilai Net Sell |
|---|---|---|
| 1 | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp 375,7 miliar |
| 2 | PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) | Rp 221 miliar |
| 3 | PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) | Rp 140,5 miliar |
| 4 | PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) | Rp 123,3 miliar |
| 5 | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) | Rp 113,6 miliar |
| 6 | PT Astra International Tbk (ASII) | Rp 100,7 miliar |
| 7 | PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) | Rp 94,2 miliar |
| 8 | PT Antam Tbk (ANTM) | Rp 78 miliar |
| 9 | PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) | Rp 70,7 miliar |
| 10 | PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) | Rp 34,2 miliar |
Meskipun terjadi aksi jual di beberapa emiten, investor asing secara keseluruhan membukukan transaksi beli bersih atau net buy sebesar Rp 249,1 miliar di seluruh pasar. Pada pasar reguler, nilai penjualan bersih asing tercatat senilai Rp 130,8 miliar, sedangkan pasar negosiasi dan tunai menorehkan pembelian bersih Rp 380,05 miliar.
Total nilai transaksi yang terjadi di Bursa Efek Indonesia secara keseluruhan menyentuh angka Rp 21,9 triliun. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 217 saham mengalami penguatan, 510 saham terkoreksi, dan 232 saham bergerak stagnan. Volume perdagangan di bursa dilaporkan mencapai 37,8 miliar saham yang ditransaksikan dengan frekuensi sebanyak 2,4 juta kali.
Sementara itu, pada acara terpisah di Jakarta, Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Rahmat Subagio memaparkan perihal ketahanan siber nasional yang harus terus diperkuat. Penyiapan sumber daya manusia, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta adopsi teknologi terkini menjadi poin penting dalam menghadapi ancaman digital yang dinamis.
"Ancaman siber tidak mengenal batas dan terus berkembang dari ransomware, Advanced Persistent Threats (APT), hingga serangan terhadap infrastruktur kritikal," kata Rahmat, Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Forum Nasional yang diselenggarakan di Gedung Ali Wardhana, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.