Aksi beli bersih atau net buy oleh investor asing melanda saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Padahal, saham emiten perbankan plat merah ini sebelumnya terus berada di bawah tekanan jual asing secara bertubi-tubi.
Dikutip dari Investor Daily, investor asing membukukan transaksi beli bersih senilai Rp 84,8 miliar pada saham BMRI di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (18/5/2026). Data Stockbit Sekuritas menunjukkan transaksi ini menjadi net buy asing terbesar kedua.
Posisi pertama ditempati oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan catatan net buy asing mencapai Rp 107,1 miliar. Secara keseluruhan, pasar modal Indonesia sebenarnya masih diwarnai aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing sebesar Rp 463,7 miliar di seluruh pasar pada hari yang sama.
Akumulasi net sell asing sepanjang tahun berjalan kini bertambah menjadi Rp 41,2 triliun menurut data BEI. Tekanan ini berjalan beriringan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup ambles 124,08 poin atau turun 1,85% ke level 6.599,2 pada Senin (18/5/2026).
Meskipun saham BMRI ditutup terkoreksi 1,6% ke level Rp 4.130, investor asing langsung memanfaatkan momentum tersebut untuk menyerap saham ini. Langkah pengosongan posisi jual tersebut bertepatan dengan publikasi pembaruan kinerja keuangan terbaru Bank Mandiri.
Bank Mandiri membukukan laba bersih lepasan atau bank only sebesar Rp 4,5 triliun khusus pada April 2026. Angka ini melonjak 26% secara tahunan (yoy), walaupun mengalami penurunan sebesar 5% secara bulanan (mom).
Akumulasi laba bersih bank only BMRI sepanjang Januari hingga April 2026 (4M26) menembus Rp 18,1 triliun atau melejit 19% yoy. Catatan Stockbit Sekuritas menyebutkan perolehan ini telah memenuhi ekspektasi pasar secara signifikan.
"Perolehan laba bersih BMRI setara 31% dari estimasi konsensus untuk konsolidasi tahun 2026. Sebagai pembanding, pada 4M25 mencapai 27% dari realisasi konsolidasi 2025," tulis Stockbit Sekuritas dalam catatannya, yang dikutip pada Selasa (19/5/2026).
Pertumbuhan laba bersih BMRI selama empat bulan pertama tahun 2026 ditopang oleh kenaikan PPOP sebesar 14% yoy. Kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan net interest income (NII) yang kuat hingga 10% yoy, sejalan dengan ekspansi kredit yang tumbuh 18% yoy melalui sokongan pembiayaan kepada PT Agrinas Pangan Nusantara.
Pendapatan non-bunga atau non-interest income turut mencatatkan pertumbuhan solid sebesar 7% yoy dengan beban operasional (opex) yang terjaga di angka 2% yoy. Di sisi lain, beban provisi mengalami penurunan sebesar 17% yoy yang berimplikasi pada penurunan cost of credit (CoC) bank only BMRI menjadi 0,5% dari posisi 0,7% pada periode 4M25.
Sektor riset Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Bank Mandiri. Target harga saham BMRI ditetapkan berada pada level Rp 5.700, yang mengindikasikan potensi keuntungan atau cuan sebesar 38%.
Target harga yang dipatok tersebut mencerminkan estimasi nilai valuasi PBV tahun 2026 sebesar 1,7 kali. Proyeksi ini juga didukung oleh potensi imbal hasil dividen atau dividend yield yang tinggi mencapai 8,5% untuk tahun buku 2026, sebuah estimasi yang turut dipengaruhi oleh faktor Danantara.
Sebelumnya, RUPST BMRI yang digelar pada 29 April 2026 telah memberikan keputusan terkait pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 44,47 triliun atau setara Rp 476,95 per saham. Nilai rasio pembagian dividen tersebut mencapai 79% dari total raihan laba bersih tahun 2025.
Alokasi dividen total BMRI tersebut sudah mencakup dividen interim senilai Rp 9,32 triliun yang telah disalurkan kepada pemegang saham pada 14 Januari 2026. Dengan demikian, sisa dividen tunai yang akan dibayarkan adalah sebesar Rp 35,15 triliun atau setara Rp 376,95 per lembar saham.
Manajemen Bank Mandiri juga mengantongi persetujuan dari para pemegang saham untuk menjalankan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Nilai maksimal aksi serok saham ini ditetapkan sebesar Rp 1,16 triliun dan dijadwalkan berlangsung paling lama 12 bulan setelah pelaksanaan RUPST.