Investor institusi asing terpantau bergerak agresif dalam menambah porsi kepemilikan saham mereka di PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Aksi korporasi ini terjadi menjelang pengumuman resmi mengenai rencana integrasi operasional antara Danamon dengan MUFG Bank Ltd, Jakarta Branch.
Pergerakan pasar modal menunjukkan dinamika yang cukup signifikan pada saham BDMN. Dilansir dari Investortrust, data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat lonjakan harga saham BDMN yang melebihi 88% hingga menyentuh level Rp 4.700 dalam kurun waktu sebulan terakhir. Pada periode yang sama, pemodal asing membukukan aksi beli bersih atau net buy yang mencapai Rp 41,06 miIiar.
Berdasarkan laporan daftar 20 besar pemegang saham BDMN per 30 April 2026, UBS AG London Branch Equities House memperbesar kepemilikannya menjadi 164,23 juta saham. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 4,22 juta saham dari posisi sebelumnya yang berada di angka 160,01 juta saham pada 31 Maret 2026.
Melalui tambahan volume tersebut, persentase kepemilikan UBS di dalam BDMN otomatis terkerek naik dari 1,64% menjadi 1,68%. Struktur ini menempatkan UBS tetap pada posisi kedua sebagai pemegang saham terbesar di bawah kendali MUFG Bank Ltd.
Akumulasi saham oleh UBS ini berjalan selaras dengan catatan net foreign buy yang mencapai Rp 29,71 miliar sepanjang April 2026. Di sisi lain, MUFG Bank Ltd kokoh mempertahankan posisinya sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 8,94 miliar saham atau setara 91,47%, tidak mengalami perubahan dari bulan sebelumnya.Dinamika penambahan saham juga diperlihatkan oleh sejumlah pemegang saham minoritas lainnya. Kepemilikan Hansel Sosro Saputro naik dari 8,5 juta saham menjadi 9,62 juta saham, diikuti HSBC Ltd-Hong Kong Private Banking Division Account Clients yang tumbuh dari 7,64 juta saham menjadi 8,68 juta saham. Selain itu, Darwin Sutanto juga meningkatkan porsinya dari 7,35 juta saham menjadi 8,27 juta saham.
Aktivitas transaksi pemegang saham minoritas tersebut berlangsung tepat sebelum manajemen BDMN menyampaikan keterbukaan informasi. Melalui dokumen tertanggal 11 Mei 2026, Danamon mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan MUFG Bank Ltd untuk menjajaki potensi penggabungan operasional dengan MUFG Bank Ltd, Jakarta Branch.
Pihak Danamon menyatakan bahwa proses integrasi ini dirancang untuk menyatukan seluruh kekuatan, keahlian, serta jaringan global dan nasional dari kedua entitas keuangan tersebut. Langkah strategis ini diharapkan mampu memperkokoh lini layanan keuangan bagi seluruh nasabah di pasar domestik.
Seluruh struktur dan mekanisme penggabungan nantinya akan disusun secara formal ke dalam Rancangan Integrasi. Dokumen hukum tersebut selanjutnya bakal diserahkan kepada otoritas yang berwenang, dipublikasikan kepada masyarakat luas, serta dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham sesuai regulasi.
Manajemen Danamon menegaskan bahwa realisasi integrasi ini masih sepenuhnya bergantung pada restu dari otoritas terkait dan para pemegang saham. Berdasarkan estimasi perusahaan, proses integrasi tersebut ditargetkan dapat berjalan efektif dalam rentang waktu tahun 2027.
Proyeksi Dampak Finansial Gabungan
Rencana penggabungan Danamon dengan MUFG mencuri perhatian besar dari para pelaku pasar modal karena melibatkan dua kekuatan utama dalam kategori bank KBMI III. Secara kalkulasi matematis, sinergi ini berpotensi melahirkan kekuatan baru di kelas KBMI IV yang selama beberapa tahun terakhir hanya diisi oleh empat bank raksasa.
Apabila dihitung secara sederhana, total ekuitas gabungan dari aksi korporasi ini berpotensi menembus Rp 98,32 triliun. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari modal bersih BDMN senilai Rp 54,27 triliun dan MUFG Cabang Indonesia yang tercatat sebesar Rp 44,05 triliun.
Melihat dari sisi total aset, akumulasi dari kedua entitas ini diproyeksikan mampu mencapai Rp 477,36 triliun, yang berasal dari aset BDMN sebesar Rp 275,71 triliun dan kontribusi MUFG Cabang Indonesia senilai Rp 201,65 triliun. Sementara untuk fungsi intermediasi, agregat penyaluran kredit gabungan diperkirakan dapat menyentuh angka Rp 265,75 triliun.
Jika kalkulasi tersebut turut memasukkan porsi pembiayaan syariah milik BDMN serta piutang pembiayaan konsumen, maka total eksposur pembiayaan secara keseluruhan berpeluang meningkat hingga mencapai kisaran Rp 314,12 triliun.
Dari sektor pendanaan, jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) gabungan memiliki potensi kumulatif mencapai Rp 226,55 triliun. Pada aspek profitabilitas, torehan laba bersih gabungan diproyeksikan menyentuh angka Rp 11,13 triliun, atau berada di kisaran Rp 10,90 triliun apabila mengacu pada basis laba bersih BDMN yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.