Kementerian Perindustrian melaporkan realisasi investasi sektor manufaktur nasional mencapai Rp418,62 triliun pada kuartal pertama 2026 yang bersumber dari 633 perusahaan industri baru. Capaian ini diproyeksikan mampu menyerap 219.684 tenaga kerja di berbagai subsektor strategis, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Sabtu (25/4/2026).
Data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) per 23 April 2026 menunjukkan penguatan signifikan pada struktur industri hulu dan hilir. Sektor industri logam dasar tercatat sebagai penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp218,04 triliun dari 24 perusahaan, disusul industri bahan kimia sebesar Rp81,22 triliun.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, memberikan penegasan mengenai ketangguhan sektor ini di tengah dinamika pasar global. Pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada 2025 tercatat sebesar 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.
"Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan hasil yang kuat. Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh," ujar Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian.
Febri memaparkan bahwa kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional terus menanjak sejak kuartal II 2022 yang saat itu sebesar 17,92 persen hingga mencapai 19,20 persen pada akhir 2025. Peningkatan ini mencerminkan peran industri sebagai motor utama penggerak ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
"Di tengah situasi global yang tidak menentu, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat dan daya saing industri Indonesia terus meningkat," kata Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian.
Optimisme pemerintah didorong oleh kebijakan hilirisasi dan perlindungan industri dalam negeri melalui kebijakan non-tariff barrier serta reformasi TKDN. Selain sektor padat modal, industri padat karya seperti kulit dan alas kaki juga mencatatkan potensi penyerapan 37.350 tenaga kerja baru.
"Kami mengajak seluruh pihak melihat sektor manufaktur secara objektif berbasis data. Industri Indonesia terus bergerak menuju fase penguatan struktur ekonomi nasional," pungkas Febri Hendri Antoni Arief, Juru Bicara Kementerian Perindustrian.
| Subsektor Industri | Jumlah Perusahaan | Nilai Investasi |
|---|---|---|
| Industri Logam Dasar | 24 | Rp218,04 Triliun |
| Industri Bahan Kimia & Barang dari Bahan Kimia | 49 | Rp81,22 Triliun |
| Industri Barang Galian Bukan Logam | - | Rp12,10 Triliun |
| Industri Pengolahan Tembakau | 72 | - |
| Industri Minuman | 67 | - |
| Industri Makanan | 60 | - |
Kementerian Perindustrian saat ini memfokuskan investasi pada sektor prioritas meliputi otomotif, elektronika, hingga farmasi untuk memperkuat kapasitas produksi nasional. Pembangunan fasilitas produksi baru ini tersebar luas di berbagai wilayah sebagai sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi tahun 2026.