Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan pemberlakuan insentif kendaraan listrik (EV) pada Juni 2026 sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak. Kebijakan ini mencakup alokasi kuota untuk 100.000 unit mobil listrik dan 100.000 unit sepeda motor listrik pada tahun ini.
Pemerintah telah menyiapkan skema subsidi sebesar Rp 5 juta per unit untuk sepeda motor listrik. Sementara itu, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40% hingga 100% akan diberikan khusus untuk kategori mobil listrik murni, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
"Untuk mobil itu bervariasi. Ada yang 100% PPN-nya ditanggung, ada yang 40%. Tergantung baterainya," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Penetapan besaran insentif tersebut akan merujuk pada jenis baterai yang digunakan oleh kendaraan. Fokus utama diberikan kepada kendaraan berbasis baterai nikel untuk mendukung program hilirisasi sumber daya alam Indonesia.
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menyatakan dukungannya terhadap rencana pemberian insentif untuk EV berbasis nikel tersebut. Pihak BYD menilai regulasi ini dapat menjadi pendorong signifikan bagi adopsi kendaraan listrik di tanah air pada Selasa (12/5/2026).
"Tapi saya percaya insentif dari pemerintah, bisa sesegera mungkin mendukung transisi energi dan mengurangi subsidi bahan bakar, apalagi dengan uncertainty dan situasi geopolitik sekarang menjadi semakin kompleks ya untuk tetap bergantung pada energi fosil," kata Luther Panjaitan, Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia.
BYD mengklaim telah menyiapkan strategi jangka panjang yang mencakup berbagai aspek operasional untuk menyesuaikan diri dengan pasar Indonesia. Komitmen perusahaan diarahkan pada pemenuhan aturan pemerintah guna mempercepat transisi energi di sektor transportasi.
"Kami telah menetapkan seluruhnya, mempertimbangkan berbagai macam aspek termasuk dari sisi produksi, ekosistem yang akan dibangun, gaya dalam menentukan jaringan penjualan, kemudian pertimbangan terhadap package terhadap pengendaraannya, yaitu seperti aftersales, commitment dari warranty, lalu baterai," jelas Luther Panjaitan.
Keberhasilan transisi dari kendaraan konvensional ke elektrifikasi penuh di pasar global menjadi acuan bagi BYD. Perusahaan otomotif ini terus mempelajari model kesuksesan yang telah diterapkan di berbagai negara lain.
"Rencana itu mungkin juga adalah refleksi bahwa ternyata efektifnya aturan fiskal bahkan non-fiskal yang ada saat ini dalam mendukung transisi," ujar Luther Panjaitan.