Inovasi Digital di Perante, Pendataan Stunting dan TB Lebih Cepat Tanpa Ribet 2026

Inovasi Digital di Perante, Pendataan Stunting dan TB Lebih Cepat Tanpa Ribet 2026
Foto: Inovasi Digital di Perante, Pendataan Stunting dan TB Lebih Cepat Tanpa Ribet 2026. (Illustration by Pexels)

Upaya menekan angka stunting dan tuberkulosis (TB) di tingkat desa kini mulai memanfaatkan sentuhan teknologi sederhana namun efektif. Strategi ini dilakukan oleh Siti Zubaidah dan Farhana, penggerak TP PKK Desa Perante, Situbondo, yang berinisiatif mendigitalisasi proses pendataan kesehatan warga.

Melalui penggunaan platform Google Form dan WhatsApp, mereka berhasil mempercepat proses skrining kesehatan di wilayahnya. Langkah ini diambil karena melihat adanya keterkaitan erat antara risiko infeksi TB dengan gangguan pertumbuhan pada anak atau stunting.

Inovasi Kardas Centing Tosis

Farhana menjelaskan bahwa stunting dan tuberkulosis bagaikan lingkaran setan yang saling memengaruhi satu sama lain. Anak yang mengalami stunting memiliki daya tahan tubuh lemah sehingga rentan tertular TB, sementara infeksi TB dapat menghambat proses tumbuh kembang anak secara maksimal.

Guna memutus rantai tersebut, tercetuslah program Kardas Centing Tosis yang merupakan singkatan dari Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberculosis. Program yang digalakkan sejak tahun 2023 ini mengandalkan sistem pendataan digital untuk memetakan kondisi kesehatan masyarakat secara lebih luas.

Beberapa manfaat utama dari sistem pendataan kesehatan digital ini adalah:

  • Mempercepat proses skrining kesehatan warga tanpa harus bertatap muka secara langsung di tahap awal.
  • Meningkatkan kenyamanan keluarga dalam memberikan informasi medis yang bersifat pribadi secara lebih terbuka.
  • Menyediakan basis data yang akurat bagi kader Posyandu untuk memberikan tindakan medis atau konsultasi lebih lanjut.
  • Memudahkan distribusi edukasi mengenai bahaya stunting dan tuberkulosis melalui platform pesan singkat.

Farhana menyebutkan bahwa informasi mengenai formulir digital ini disebarkan melalui grup WhatsApp para kader desa. Selain pengisian formulir, tim penggerak juga tetap melakukan workshop edukasi untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai kesehatan lingkungan.

Capaian Data dan Penanganan Medis

Pemanfaatan Google Form terbukti efektif menjangkau hampir seluruh warga Desa Perante yang berjumlah sekitar 1.000 jiwa. Tercatat hampir 200 anak telah terdata dalam program stunting, sementara lebih dari 500 warga sudah mengikuti skrining tuberkulosis.

Setelah data terkumpul, pihak desa berkoordinasi dengan bidan dan tenaga kesehatan Posyandu untuk langkah intervensi. Anak-anak yang terindikasi stunting akan segera menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) secara gratis sebagai bagian dari upaya pemulihan nutrisi.

Berikut adalah ringkasan data pencapaian program kesehatan di Desa Perante:

Kategori Pendataan Jumlah Warga Terdata Tindakan Lanjut
Skrining Stunting Sekitar 200 Anak Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Gratis
Skrining Tuberkulosis 500 - 600 Orang Konsultasi Medis dan Rujukan Puskesmas
Total Penduduk Desa Hampir 1.000 Jiwa Edukasi Berkelanjutan via WhatsApp

Data di atas menunjukkan bahwa mayoritas warga desa telah terpantau kondisi kesehatannya melalui sistem digital yang terintegrasi. Penanganan stunting ini memerlukan komitmen jangka panjang, bahkan bisa memakan waktu hingga dua sampai tiga tahun masa pemulihan.

Keberhasilan dan Metode Jemput Bola

Meskipun data penurunan angka stunting secara keseluruhan masih dalam proses pemutakhiran, Farhana sudah melihat dampak positif di lapangan. Beberapa anak yang sebelumnya masuk dalam daftar penerima PMT pada tahun 2024, kini sudah dinyatakan sehat dan lulus dari kategori stunting pada tahun 2025.

Kondisi ini menjadi bukti bahwa pendataan yang tepat sasaran memudahkan penyaluran bantuan nutrisi kepada pihak yang benar-benar membutuhkan. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif kader yang sigap memantau perkembangan setiap anak di desanya.

Bagi warga yang mengalami kendala akses internet atau tidak memiliki perangkat seluler, tim PKK menerapkan metode "jemput bola". Petugas akan mendatangi rumah warga secara langsung untuk membantu pengisian formulir agar tidak ada penduduk yang terlewat dalam pendataan.

Inisiatif ini membuktikan bahwa teknologi tidak harus rumit untuk memberikan dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat desa. Sinergi antara perangkat digital sederhana dan dedikasi kader kesehatan menjadi kunci utama dalam memerangi masalah kesehatan kronis di daerah.

Artikel terkait

Rekomendasi