Inflasi Tahunan Indonesia Mereda Jadi 242 Persen Pada April 2026

Inflasi Tahunan Indonesia Mereda Jadi 242 Persen Pada April 2026
Foto: Ilustrasi Inflasi Tahunan Indonesia Mereda Jadi 242 Persen Pada April 2026.

Laju inflasi tahunan di Indonesia mencatatkan penurunan signifikan menjadi 2,42% pada April 2026. Laporan yang dikutip dari Investortrust ini menunjukkan tren pendinginan ekonomi dibandingkan bulan Maret yang sempat menyentuh angka 3,48%.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa secara bulanan (MoM), pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) melambat ke angka 0,13% dari posisi 0,41% pada bulan sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh stabilitas harga komoditas pangan di pasar domestik.

Meskipun demikian, penurunan inflasi yang lebih dalam tertahan oleh lonjakan tarif angkutan udara serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi sektor transportasi ini mencegah angka inflasi turun ke level yang lebih rendah.

Sektor transportasi mengalami kenaikan harga sebesar 0,99% yang menjadi faktor utama penahan penurunan inflasi. Lonjakan permintaan perjalanan membuat tarif tiket pesawat memberikan kontribusi sebesar 0,11% terhadap total inflasi bulanan.

"The dominant commodities driving the monthly push were airfares and gasoline," kata Ateng Hartono, Deputi di BPS.

Tekanan dari sektor transportasi tersebut berhasil diredam oleh deflasi sebesar 0,88% pada kelompok harga pangan yang bergejolak. Komoditas seperti daging ayam dan cabai, yang biasanya memicu ketidakstabilan, mengalami penurunan harga cukup besar pada bulan April.

Ateng Hartono juga menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi belakangan ini tidak memicu lonjakan inflasi nasional yang berarti untuk periode April 2026. Hal tersebut terjadi karena bobot konsumsi BBM nonsubsidi tergolong rendah dalam struktur pengeluaran masyarakat luas.

Dampak kebijakan harga tersebut tetap kecil lantaran BBM jenis high-octane hanya digunakan oleh segmen masyarakat tertentu yang jumlahnya terbatas. Secara matematis, perubahan harga pada kelompok ini tidak cukup kuat untuk mendongkrak angka inflasi agregat.

Implikasi Geopolitik Global dan Harga Emas

Di balik penurunan angka inflasi utama, ketegangan geopolitik global di Timur Tengah dilaporkan mulai merembes ke ekonomi domestik melalui jalur rantai pasok. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat adanya kenaikan biaya bahan baku resin plastik yang berimbas pada sektor pengemasan.

"Business players in the rice and sugar sectors are feeling the pinch from packaging costs," ujar I Gusti Ketut Astawa dari Bapanas.

Kenaikan harga resin ini menambah beban biaya bungkus sebesar Rp 350 per kilogram untuk komoditas beras. Akibatnya, harga eceran beras di tingkat konsumen bertahan 4,36% lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kelompok pengeluaran perawatan pribadi mencatatkan lonjakan inflasi tahunan yang mencolok sebesar 11.43%. Kenaikan drastis ini dipicu oleh reli harga emas di pasar global, mengingat masyarakat Indonesia sering membeli perhiasan emas sebagai pelindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.

Artikel terkait

Rekomendasi