Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadinya inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan pada April 2026 yang dipicu oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 110,95 menjadi 111,09. Dilansir dari Money, kenaikan biaya transportasi menjadi faktor utama penyumbang inflasi di tengah penurunan harga beberapa komoditas pangan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, merinci bahwa kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,12 persen. Sebaliknya, kategori makanan, minuman, dan tembakau justru mencatatkan deflasi sebesar 0,20 persen pada periode yang sama.
"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain tarif angkutan udara dan bensin. Tarif angkutan udara memberikan andil inflasi sebesar 0,11 persen sedangkan bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen," jelas Ateng dalam keterangan resmi, Selasa (5/5/2026).
Peningkatan harga juga terdeteksi pada minyak goreng dan beberapa jenis sayuran seperti tomat, serta komoditas beras. Namun, tekanan inflasi ini diredam oleh penurunan harga daging ayam ras, emas perhiasan, serta cabai rawit yang mengalami deflasi cukup signifikan.
ÔÇ£Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,ÔÇØ ungkap Ateng.
Data wilayah menunjukkan 30 provinsi mengalami kenaikan harga dengan inflasi tertinggi berada di Papua Barat mencapai 2,00 persen. Secara tahunan, inflasi April 2026 menyentuh angka 2,42 persen, lebih tinggi dibandingkan periode April tahun sebelumnya yang berada di level 1,95 persen.
Selain laporan inflasi, BPS memaparkan kondisi perdagangan luar negeri Indonesia yang mencatatkan surplus kumulatif sebesar 5,55 miliar dollar AS sepanjang Januari hingga Maret 2026. Capaian ini memperpanjang tren positif neraca perdagangan nasional selama 71 bulan berturut-turut.
ÔÇ£Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 5,55 miliar dollar AS. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas 10,63 miliar dollar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit 5,08 miliar dollar AS,ÔÇØ ungkap Ateng.
Pertumbuhan ekspor didominasi oleh sektor industri pengolahan dengan negara tujuan utama meliputi China, Amerika Serikat, dan India. Sementara itu, nilai impor juga mengalami kenaikan 10,05 persen yang didominasi oleh kebutuhan bahan baku dan barang modal.
Sektor pariwisata turut menunjukkan penguatan dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 1,09 juta pada Maret 2026. Kenaikan tajam juga terjadi pada mobilitas masyarakat saat periode Lebaran, di mana perjalanan wisatawan nusantara melonjak 42,10 persen dibanding tahun lalu.