IBC Proyeksikan Indonesia Jadi Pemain Utama Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik

IBC Proyeksikan Indonesia Jadi Pemain Utama Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik
Foto: Ilustrasi IBC Proyeksikan Indonesia Jadi Pemain Utama Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik.

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Toto Nugroho, menyatakan bahwa transisi pabrikan otomotif global dari mesin berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) menjadi momentum tepat bagi Indonesia untuk membangun ekosistem terintegrasi pada Selasa (29/08/2023).

Langkah strategis ini didukung oleh kepemilikan hampir separuh cadangan nikel dunia di Indonesia serta basis pasar yang kuat sebagai negara berpopulasi terbesar keempat di dunia. Fenomena pergeseran industri otomotif global ini dinilai sebagai peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional melalui hilirisasi nikel.

"Sekarang sudah 18%. Seluruh produsen otomotif di dunia akan melakukan face off dari mesin BBM ke listrik," kata Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Dilansir dari Investortrust, Toto menekankan bahwa ambisi Indonesia untuk memiliki ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir merupakan sebuah kepastian yang harus diwujudkan demi nilai tambah ekonomi.

"Hampir separuh cadangan nikel dunia ada di Indonesia. Selain itu, kita punya basis pasar yang kuat," tandas Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Dukungan pemerintah diwujudkan melalui pemberian berbagai insentif, mulai dari pengurangan PPN hingga subsidi pembelian motor listrik sebesar Rp 7 juta, guna mempercepat adopsi kendaraan listrik di masyarakat.

"Bahkan, pemerintah juga getol memberikan insentif kepada konsumen kendaraan listrik," tutur Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Meskipun pasar dunia saat ini masih didominasi oleh Tiongkok dan Eropa, Indonesia diprediksi mampu berkembang lebih cepat, terutama pada sektor sepeda motor listrik yang memiliki penetrasi pasar lebih fleksibel.

"Kalau mau berkembang, ekosistem kendaraan EV kita harus didorong. Untuk sepeda motor listrik, Indonesia sebetulnya bisa lebih cepat," ucap Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Pengembangan industri BEV dipercaya akan memberikan dampak pengganda yang luas bagi perekonomian, termasuk penyerapan tenaga kerja di sektor pertambangan nikel dan peningkatan devisa negara secara signifikan.

"Multiplier effect-nya sangat besar. Jadi, pengembangan pasar kendaraan listrik bukan semata berbicara tentang kendaraan listriknya, tetapi ekonomi nasional secara keseluruhan," ujar Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Di sektor hilir, kemajuan industri otomotif lokal diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai pemain utama global jika dikembangkan secara komprehensif dari proses pemurnian hingga produksi akhir.

"Asalkan dikembangkan secara komprehensif, industri BEV kita bisa menjadi pemain utama di dunia," tegas Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Saat ini, sekitar 40 hingga 50 persen kebutuhan nikel untuk baterai kendaraan listrik dunia dipasok dari Indonesia, yang menempatkan posisi negara setara dengan peran dominan Arab Saudi di industri minyak pada era 1970-an.

"Indonesia berpotensi mendominasi suplai nikel untuk EV. Kalau melakukan pengembangan lebih lanjut nikel sulfat, misalnya, kita akan menjadi leading player yang dominan. Sama seperti Arab Saudi pada era 70-an yang dominan dengan minyak mentahnya," papar Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Sebagai perusahaan yang dimiliki bersama oleh Antam, MIND ID, Pertamina, dan PLN, IBC berkomitmen untuk memastikan ketersediaan energi dan infrastruktur pendukung bagi semua merek kendaraan listrik yang masuk ke pasar domestik.

"Apa pun merek kendaraannya, baterainya dari IBC, listriknya dari PLN," tegas Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Fokus pengembangan saat ini mencakup dua sisi, yakni memastikan suplai bahan baku baterai yang stabil sekaligus merangsang permintaan masyarakat terhadap penggunaan kendaraan listrik.

"Kami kembangan semua itu. Kami harus mengembangkan supply, demand, atau dari sisi konsumsinya," tutur Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Baterai menjadi komponen paling krusial karena menyumbang 35 persen dari total biaya produksi dan sekitar 12 hingga 25 persen dari total bobot kendaraan listrik secara keseluruhan.

"Baterai EV itu kan bentuknya kecil. Tapi untuk mendapatkan anoda, katoda, dan seterusnya (komponen baterai EV) butuh investasi besar dan waktu yang panjang," ucap Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Keunggulan nikel lainnya adalah sifatnya yang dapat didaur ulang hingga hampir 100 persen, sehingga membuka peluang munculnya industri pengelolaan limbah baterai di masa depan.

"Jadi, 99,4% nikel bisa diolah kembali. Ini sangat penting. Maka industri ikutannya sangat panjang. Kita harus masuk di semua lini," tandas Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Dalam upaya mempercepat teknologi dan permodalan, IBC bermitra dengan raksasa dunia seperti CATL dari Tiongkok dan LG Group dari Korea Selatan melalui skema investasi terintegrasi end-to-end.

"Pengembangannya dari hulu hingga hilir, end to end. Kenapa kita butuh mitra, karena mereka punya teknologi dan modal, sedangkan kita punya pasar dan nikel. Jadi, bolehlah mereka dapat nikel dari Antam, tapi mereka ekspornya nggak boleh di tengah-tengah (produk setengah jadi), melainkan harus dalam bentuk baterai," papar Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Kemitraan ini sangat strategis karena produsen baterai besar tersebut sudah memiliki jaringan yang kuat dengan berbagai produsen kendaraan listrik ternama di tingkat global.

"LG dan CATL menyuplai para produsen kendaraan listrik yang hampir sama. Mereka sudah punya link, itu sulit kita pecahkan karena sudah menjadi satu kesatuan," tegas Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Pemerintah menargetkan kehadiran produsen baterai akan menjadi magnet bagi produsen mobil listrik dunia untuk segera membangun basis produksi mereka di wilayah Indonesia.

"Untuk menarik para produsen kendaraan listrik ke Indonesia, kita harus bawa dulu produsen baterai terbesarnya. Inilah strategi kita untuk tarik investasi mereka. Setelah kita bekerja sama dengan CATL dan LG, beberapa nama sudah komit untuk investasi di Indonesia," tutur Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Salah satu hasil nyata adalah pembangunan pabrik sel baterai di Karawang oleh konsorsium LG dengan investasi senilai Rp 142 triliun yang direncanakan beroperasi komersial pada April 2024.

"LG membangun pabrik baterai, lalu di sebelahnya langsung bikin mobil EV sendiri. Pabrik baterai berkapasitas 10 GWh itu cukup untuk memproduksi 200 ribu kendaraan per tahun. Inilah yang akan membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Mereka membangun pabrik baterai, sekaligus bikin pabrik mobil listriknya," papar Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Selain proyek skala besar, pengembangan produk lokal seperti sepeda motor listrik Gesits terus dipacu untuk memperkuat penguasaan pasar di dalam negeri.

"Gesits (sepeda motor listrik buatan IBC) adalah salah satu ikhtiar kami membangun eksosistem kendaraan listrik," ujar Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Dalam persaingan regional, Indonesia terus memantau kebijakan insentif negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam guna memastikan iklim investasi di Tanah Air tetap kompetitif dan menarik bagi pelaku industri.

"Kalau Thailand kasih insentif 100, kita kasih 105. Mereka sangat jorjoran, kita tidak boleh kalah," tandas Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Optimisme ini didasarkan pada fakta bahwa negara kompetitor tidak memiliki kekayaan sumber daya alam nikel yang menjadi kunci utama pembuatan baterai kendaraan listrik.

"Mereka tidak punya nikel, hanya punya pasar dan industri otomotif yang kuat. Selain Thailand, Vietnam juga pesaing kita di Asean," ujar Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Pemerintah juga menyediakan berbagai fasilitas perpajakan seperti tax holiday dan pembebasan pajak impor barang modal bagi industri pionir untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri.

"Insentif juga diberikan kepada pengguna infarstruktur baterai kendaraan listrik di tempat pengisian ulang, termasuk kemudahan pembiayaan bagi konsumen yang ingin membeli kendaraan listrik," ujar Toto Nugroho, Direktur Utama IBC.

Artikel terkait

Rekomendasi