Indonesia dan Filipina Sepakati Kerja Sama Bisnis Sektor Nikel

Indonesia dan Filipina Sepakati Kerja Sama Bisnis Sektor Nikel
Foto: Ilustrasi Indonesia dan Filipina Sepakati Kerja Sama Bisnis Sektor Nikel.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengonfirmasi penandatanganan kesepakatan kerja sama komoditas nikel antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina pada Senin (11/5/2026). Kolaborasi yang dilakukan di sela KTT ASEAN tersebut difokuskan pada pengembangan ekosistem industri nikel secara berkelanjutan.

Kemitraan ini dijalankan melalui skema bisnis ke bisnis atau business to business (B2B). Dilansir dari Ekonomi, langkah strategis tersebut bertujuan untuk mengakselerasi industrialisasi di kedua negara yang memiliki cadangan nikel signifikan di tingkat global.

"Dalam pembahasan antarpimpinan bilateral tidak ada soal nikel. Yang ada itu adalah B2B antara pengusaha Indonesia dengan teman-teman pengusaha Filipina," kata Bahlil, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Bahlil memberikan penjelasan mengenai potensi besar penggabungan kekuatan kedua negara dalam pasar nikel dunia. Menurutnya, aspek nilai ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam merealisasikan kerja sama antara para pengusaha tersebut.

"Kalau diakumulasikan, total cadangan [nikel] Indonesia dan Filipina itu lebih dari 60% dari keseluruhan di dunia. Sehingga, secara bisnis juga terbuka saja asalkan nilai ekonomisnya dipertimbangkan secara matang," kata Bahlil, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Data United States Geological Survey (USGS) 2026 mencatat Indonesia memegang 44,5 persen cadangan nikel dunia atau sekitar 62 juta ton. Sementara itu, Filipina tercatat memiliki cadangan sebesar 4,8 juta ton atau merefleksikan 3,4 persen dari total volume global.

Implementasi kerja sama ini ditandai dengan nota kesepahaman antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA). Kesepakatan ini mencakup pertukaran informasi perdagangan, teknologi hilirisasi, serta pengembangan sumber daya manusia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kolaborasi ini akan membentuk platform terstruktur yang memperkuat posisi kedua negara. Integrasi antara kekuatan smelter Indonesia dan pasokan bahan baku dari Filipina menjadi poin krusial.

"Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,ÔÇØ ujar Airlangga, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Artikel terkait

Rekomendasi