Board of Director Indomobil Group, Andrew Nasuri, mengungkapkan alasan di balik efisiensi tinggi produsen otomotif China yang kini masif merambah pasar Indonesia. Berbicara di Guangzhou, China, Andrew menyoroti keunggulan skala produksi dan kolaborasi antar-merek dalam penggunaan komponen yang sama.
Dilansir dari Detik Oto, strategi Indomobil Group membawa berbagai jenama asal Negeri Tirai Bambu didasari pada pengamatan terhadap ekosistem manufaktur di sana. Efisiensi biaya yang luar biasa muncul karena standarisasi komponen yang digunakan secara luas oleh berbagai kompetitor.
"Jadi, kita itu kalau membuat kendaraan, kita harus lihat dari skala produksi, sparepart-Komponen.China itu tuh komponen manufacturing itu sudah bukan antara grup, tapi antara merek.Baterai CATL,semua merek pakai CATL. Itu adalah cost efficiency yang luar biasa," ujar Andrew Nasuri, Board of Director Indomobil Group.
Kondisi ini dinilai berbeda dengan budaya kerja produsen otomotif dari negara tradisional lainnya. Andrew memberikan perbandingan mengenai pola kompetisi yang terjadi pada industri mobil asal Jerman dan Jepang yang cenderung lebih tertutup dalam hal berbagi manufaktur.
"Sedangkan Jepang (brand otomotif asal Jepang), gue-gue elu-elu (masing-masing brand otomotif asal Jepang bersaing satu sama lain), That's the mentality-kan. Jerman juga begitu (brand otomotif asal Jerman saling bersaing). Oke komponen manufacturing, mereka share manufacturing itu hanya antar group," lanjut Andrew.
Meskipun berasal dari kelompok usaha yang berbeda, perusahaan otomotif di China bersedia menggunakan pemasok komponen yang sama. Hal ini menciptakan kematangan keterampilan produksi yang berdampak langsung pada penurunan harga jual kendaraan.
"China itu, You lihat barang-barangnya mereka.Komponen maker-nya sama semuanya. Akhirnya sharing, jadicost of production-nya luar biasa-very cheap. Jadi bukannya bilang, barang di China kok bisa murah?Karena skill.All about skill, bro. Lu kalau sudah namanya produksi, skill itu udah gila.Once you have the skill, itu price turun, " kata Andrew.
Walaupun gencar membawa merek asal China, Andrew menegaskan bahwa Indomobil Group tidak akan hanya terpaku pada satu negara asal produksi. Ia menekankan bahwa posisi China saat ini lebih berperan sebagai basis produksi yang kuat.
"Tidak," tegas Andrew.
Keberagaman portofolio merek yang dikelola Indomobil saat ini mencakup berbagai jenama global lainnya seperti Volkswagen dan Mercedes-Benz. Menurutnya, konsumen Indonesia kini sudah cukup cerdas dalam menilai kualitas sebuah produk otomotif tanpa memandang negara asalnya.
"Karena kita lihat itu, China itu adalah basis produksi doang.Tapi you bisa lihat, dari semua merek-merek you lihat today. Ada VW, ada Mercedes, gak hanya China," ucap Andrew.
Andrew berpendapat bahwa aspek kualitas yang sebanding dengan harga menjadi pertimbangan utama masyarakat. Edukasi mengenai nilai produk menjadi sangat penting dalam menghadapi pasar kendaraan penumpang yang sifatnya sangat personal.
"Orang Indonesia sudah pinter, orang Indonesia sudah lihat dari China, atau dari negara apa. Mereka sudah lihat quality begini,dengan harga segini. Yah mau apa?Gitu lho," Andrew menambahkan.
Strategi besar Indomobil saat ini diarahkan untuk mencakup seluruh preferensi desain dan kebutuhan konsumen. Target perusahaan adalah memastikan masyarakat memilih berbagai jenis kendaraan yang tersedia di bawah naungan grup mereka.
"Pasar Indonesia itu perlu edukasi.edukasi ini adalah education is value.Ini beda kalau passenger-passenger, commercial-commercial ya. Passenger itu adalah Saat Anda liat undaraan You suka desainnya. Itu very personal. You suka desain ini, desain A, desain B, desain C. Strategi Indomobil sekarang adalah saya mau semua orang itu ambil barang (beli mobil) di Indomobil," kata Andrew.