Indofood Riset Nugraha Kucurkan Dana Penelitian Mahasiswa S1

Indofood Riset Nugraha Kucurkan Dana Penelitian Mahasiswa S1
Foto: Ilustrasi Indofood Riset Nugraha Kucurkan Dana Penelitian Mahasiswa S1.

Program Indofood Riset Nugraha (IRN) memberikan bantuan biaya penelitian dan dukungan tim pakar lintas disiplin bagi mahasiswa S1 untuk mengembangkan inovasi pangan berkelanjutan di Jakarta pada Senin (19/5/2026).

Pengembangan potensi pangan lokal melalui program ini ditargetkan mampu menciptakan solusi nyata serta peluang usaha baru, seperti dilansir dari Investor Daily.

Rangkaian kegiatan IRN 2026ÔÇô2027 akan dimulai dengan sosialisasi ke berbagai perguruan tinggi pada Juni 2026. Pendaftaran dibuka hingga akhir Agustus 2026, diikuti proses seleksi, dan pengumuman penerima dana pada pertengahan September 2026. Program diakhiri dengan penandatanganan perjanjian kerja sama serta Simposium Pangan Nasional IRN pada Oktober 2026.

Sepanjang dua dekade perjalanannya, IRN telah menerima lebih dari 8.300 proposal dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari 200 universitas di seluruh Indonesia.

Ketua Tim Pakar IRN, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, MSc, menjelaskan bahwa program ini bertujuan membentuk pola pikir kritis, kreatif, berani, dan inovatif bagi generasi muda demi menyongsong visi Indonesia Emas.

"Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas, diperlukan generasi peneliti yang tidak hanya cerdas secara akademi, tapi berani untuk bereksplorasi dan berinovasi, terutama dalam mengoptimalkan potensi serta kearifan lokal guna melahirkan solusi masa depan. Di sinilah IRN hadir, bukan hanya mendukung riset akademik, tetapi juga turut membangun pola pikir yang kritis, kreatif, berani dan inovatif, serta mendorong mahasiswa untuk berjejaring dan selalu mengembangkan kapasitasnya, agar mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat," kata Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, MSc, Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN.

Pihak penyelenggara secara konsisten terus mengusung tema penelitian yang relevan, termasuk riset pangan fungsional berbasis kearifan lokal. Penjaringan proposal dibarengi dengan bimbingan dari para pakar teknologi pangan, pertanian, peternakan, perikanan, gizi, hingga bioteknologi molekuler.

"Indonesia dianugerahi kekayaan pangan lokal dan pangan fungsional yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana riset tidak berhenti di laboratorium, melainkan mampu mentransformasi potensi tersebut menjadi solusi pangan masa depan yang yang memberikan dampak ganda: meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat", jelas Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, M.Sc.

Sinergi antara pelaku industri dan sektor akademis menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan program ini. Hal tersebut penting untuk membangun ekosistem riset yang kredibel.

"Sebagai salah satu perusahaan makanan dan minuman terkemuka di Indonesia, Indofood memandang kolaborasi dengan dunia akademik sebagai elemen penting dalam membangun ekosistem riset yang kredibel dan berkelanjutan," kata Stefanus Indrayana, Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

Manfaat dari program pendampingan riset ini diakui langsung oleh para alumni yang kini berkiprah di dunia akademik dan industri. Pengalaman selama program dinilai mampu membentuk karakter peneliti yang tangguh.

"Pengalaman saya dengan IRN ikut membekali saya untuk bertumbuh menjadi peneliti yang kristis, sistematis, dan selalu mengedepankan semangat kolaboratif untuk inovasi yang berdampak," kata Prof Dr Fenny Martha Dwivany, alumni IRN angkatan 2004 yang kini berkiprah sebagai Guru Besar ITB dan seorang peneliti.

Mantan peserta lain yang kini masuk ke ranah profesional juga merasakan dampak positif penajaman pola pikir solutif untuk industri. Pelatihan kecakapan hidup (soft skill) pelengkap program membantu proses adaptasi kerja.

"IRN memberikan fondasi keberanian bagi saya untuk mengembangkan berbagai potensi pangan menjadi peluang inovasi yang berdaya saing," kata Ratu Salsabila Astrakusuma, alumni IRN angkatan 2023 yang saat ini tengah meneruskan kiprahnya sebagai scientific research enthusiast di Lille, Prancis.

Artikel terkait

Rekomendasi