Indeks Wall Street Menguat Tipis di Tengah Penurunan Harga Minyak Dunia

Indeks Wall Street Menguat Tipis di Tengah Penurunan Harga Minyak Dunia
Foto: Ilustrasi Indeks Wall Street Menguat Tipis di Tengah Penurunan Harga Minyak Dunia.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis setelah sempat mengalami pergerakan fluktuatif pada awal perdagangan. Kondisi pasar ini terjadi seiring dengan melemahnya harga minyak dunia serta meningkatnya harapan pasar terhadap kelanjutan dialog damai antara AS dan Iran, dikutip dari Money.

Kendati demikian, ketegangan geopolitik tetap membayangi pergerakan pasar. Kedua belah pihak dilaporkan masih memiliki perbedaan pandangan yang cukup tajam mengenai stok uranium Iran serta pengawasan di Selat Hormuz.

Sempat tertahan di zona merah pada sesi pagi, indeks utama Wall Street akhirnya berbalik menguat menjelang penutupan sore hari. Pembalikan arah ini berjalan simultan dengan fluktuasi harga minyak komoditas yang sempat reli sebelum akhirnya berbalik turun.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 276,31 poin atau 0,55 persen ke level 50.285,66 dan mencetak rekor penutupan tertinggi baru.

Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 12,75 poin atau 0,17 persen ke level 7.445,72 dan Nasdaq Composite naik 22,74 poin atau 0,09 persen menjadi 26.293,10.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan terdapat ÔÇ£sejumlah sinyal positifÔÇØ dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, Rubio juga menegaskan bahwa kesepakatan diplomatik akan sulit tercapai apabila Teheran menerapkan sistem pungutan atau tolling di Selat Hormuz.

Di sisi lain, sumber senior Iran kepada Reuters menyebutkan bahwa hingga kini belum ada kesepakatan final dengan AS.

Walau demikian, jarak perbedaan pandangan kedua negara dilaporkan mulai menyusut. Persoalan pengayaan uranium dan kendali atas Selat Hormuz tetap menjadi rintangan utama dalam negosiasi tersebut.

Jason Pride selaku Chief Investment Strategy and Research Glenmede menilai bahwa volatilitas pasar lebih banyak dipengaruhi oleh respons para investor terhadap isu geopolitik.

ÔÇ£Kita saat ini berada pada level valuasi pasar yang tinggi yang sebagian didorong oleh kinerja laba perusahaan. Selama musim laporan keuangan, perhatian pasar lebih banyak tertuju pada earnings sehingga kekhawatiran soal Iran sempat tertutupi,ÔÇØ ujar Pride.

Menurut analisisnya, berakhirnya musim laporan keuangan membuat atensi para pelaku pasar kembali tertuju pada perkembangan stabilitas di Timur Tengah.

ÔÇ£Kita tidak akan lagi mendapatkan banyak kejutan positif dari laba perusahaan. Karena itu, perhatian pasar sekarang kembali ke Iran. Dalam jangka pendek, pasar akan bergerak berdasarkan rumor atau pengumuman terkait kesepakatan Iran,ÔÇØ lanjutnya.

Marc Dizard selaku Chief Investment Officer Huntington Wealth Management berpendapat bahwa pasar masih melihat adanya celah positif dari situasi yang berkembang saat ini.

ÔÇ£Hal positifnya adalah dari perspektif pasar, gencatan senjata yang rapuh masih bertahan. Ini juga positif karena menurut laporan berita masih ada peluang penyelesaian konflik,ÔÇØ kata Dizard.

ÔÇ£Tidak ada yang benar-benar tahu, kecuali lingkaran dalam Iran and AS, seberapa besar kemajuan yang sebenarnya telah dicapai,ÔÇØ lanjutnya.

Para pemodal di bursa juga ikut mencermati laporan kinerja keuangan terbaru dari sejumlah emiten skala besar di AS.

Saham Walmart merosot 7,3 persen setelah peritel terbesar dunia tersebut memproyeksikan laba kuartal kedua yang berada di bawah ekspektasi pasar, walaupun target tahunan tidak diubah.

Chief Financial Officer Walmart, John David Rainey, mengatakan konsumen mulai merasakan tekanan akibat tingginya harga bahan bakar.

Menurut perhitungannya, tekanan biaya yang terus tinggi berpotensi memicu lonjakan inflasi harga ritel pada kuartal kedua dan paruh kedua tahun ini.

Koreksi saham Walmart turut menyeret sektor consumer staples di dalam indeks S&P 500 yang melemah sebesar 1,6 persen.

Fenomena ini ikut menekan saham ritel lainnya, seperti Casey's General Stores yang turun 3,3 persen dan Costco Wholesale yang melemah 2,2 persen.

Di sektor teknologi, saham NVIDIA turun 1,8 persen akibat aksi ambil untung investor setelah sebelumnya perusahaan merilis proyeksi pendapatan kuartal kedua yang kuat dan program pembelian kembali saham senilai 80 miliar dollar AS.

Laju kenaikan saham Nvidia mulai tertahan karena pelaku pasar mulai memperhitungkan kompetisi yang semakin ketat dari para rival seperti Intel dan Advanced Micro Devices atau AMD.

Meski begitu, Philadelphia Semiconductor Index tetap mampu ditutup naik 1,3 persen karena pasar memandang kinerja Nvidia menjadi indikator positif bagi industri semikonduktor.

Dari sektor makroekonomi, angka klaim pengangguran di AS mengalami penurunan yang mengindikasikan pasar tenaga kerja yang kuat, memberi ruang bagi Federal Reserve untuk fokus mengantisipasi inflasi.

Aktivitas manufaktur AS juga melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada Mei 2026 karena emiten mengamankan pasokan untuk mengantisipasi gangguan akibat konflik Iran.

Sementara itu, saham IBM melonjak 12,4 persen menyusul kabar pendanaan komputasi kuantum oleh pemerintahan Presiden Donald Trump dengan imbalan kepemilikan saham di perusahaan tersebut.

Kabar tersebut ikut mendongkrak saham GlobalFoundries sebesar 14,9 persen, serta D-Wave Quantum yang melesat 33,4 persen.

Saham Rigetti Computing juga bergerak naik 30,6 persen dan Infleqtion menguat senilai 31,5 persen.

Sebaliknya, saham Intuit anjlok sebesar 20 persen setelah memotong proyeksi pendapatan tahunan sekaligus mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 17 persen karyawan tetapnya.

Penurunan kinerja ini turut menyeret saham jasa perpajakan H&R Block yang ditutup melemah sebesar 4,8 persen.

Secara umum, jumlah saham yang menguat masih mendominasi bursa New York dengan rasio perbandingan sebesar 1,51 banding 1.

Di bursa Nasdaq, tercatat 2.985 saham bergerak menguat dan 1.798 saham melemah, atau setara dengan rasio penguatan mencapai 1,66 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatatkan 11 saham baru yang berada di level tertinggi dalam 52 pekan, sedangkan Nasdaq Composite mencatat 96 saham di level tertinggi baru dan 108 saham menyentuh level terendah.

Volume perdagangan di bursa AS dilaporkan mencapai 17,67 miliar saham, sedikit berada di bawah rata-rata 20 sesi terakhir sebesar 18,57 miliar saham.

Artikel terkait

Rekomendasi