Tiga indeks utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis (14/5/2026) akibat reli sektor teknologi di tengah optimisme kecerdasan buatan (AI) dan pertemuan strategis Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Sektor teknologi menjadi mesin utama yang membawa indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor penutupan tertinggi baru, sementara Dow Jones Industrial Average mendekati level tertingginya sepanjang masa, sebagaimana dilansir dari Money.
Berdasarkan data perdagangan, indeks Dow Jones naik 370,26 poin atau 0,75 persen ke level 50.063,46, disusul S&P 500 yang menguat 56,99 poin ke 7.501,24, serta Nasdaq Composite yang melonjak 232,88 poin menjadi 26.635,22.
Senior Portfolio Manager Dakota Wealth Robert Pavlik memberikan pandangannya mengenai tren pasar saat ini yang terus menanjak dan membuat sebagian investor merasa bimbang.
"Semua orang bertanya sampai kapan reli ini akan berlangsung. Banyak investor menikmati reli ini, tetapi di saat yang sama juga mulai waswas," ujar Robert Pavlik, Senior Portfolio Manager Dakota Wealth.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi pasar saat ini menyulitkan para pemegang modal untuk tetap bersikap pasif.
"Setiap kali indeks terus mencetak rekor tertinggi baru, investor tidak bisa hanya menunggu di pinggir pasar," kata Robert Pavlik, Senior Portfolio Manager Dakota Wealth.
Pertemuan di Beijing antara Trump dan Xi Jinping turut melibatkan para petinggi teknologi dunia, termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang, guna membahas perdagangan hingga isu geopolitik Selat Hormuz.
Kabar mengenai izin pemerintah AS bagi Nvidia untuk menjual chip H200 ke perusahaan-perusahaan China membuat saham raksasa chip tersebut melonjak 4,4 persen.
Portfolio Manager Founder ETFs Michael Monaghan menyambut baik perkembangan diplomasi ekonomi yang ditunjukkan oleh kedua pemimpin negara besar tersebut.
"Kami senang melihat kedua pemimpin menunjukkan nada kolaboratif dan berharap itu berlanjut menjadi kesepakatan jangka panjang," ucap Michael Monaghan, Portfolio Manager Founder ETFs.
Meskipun pasar saham bergairah, data ekonomi menunjukkan penjualan ritel AS yang sesuai ekspektasi tetap terbebani oleh lonjakan harga bensin akibat konflik Iran yang meningkatkan biaya impor.
Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi akan menyebar ke sektor lain, sehingga peluang bank sentral AS atau The Fed untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat kian menipis.
Presiden The Fed Kansas City Jeffrey Schmid turut menyoroti stabilitas ekonomi yang saat ini masih dibayangi oleh tekanan harga yang tinggi.
"Inflasi masih menjadi risiko paling mendesak bagi ekonomi AS meskipun kondisi ekonomi dinilai tetap tangguh," kata Jeffrey Schmid, Presiden The Fed Kansas City.
Di sektor korporasi lainnya, saham Cisco meroket 13,4 persen mencapai rekor tertinggi setelah pengumuman pemutusan hubungan kerja 4.000 karyawan dan revisi naik target pendapatan tahunan.
Sebaliknya, saham Boeing terkoreksi 4,7 persen meskipun ada kesepakatan pembelian 200 pesawat oleh China, sementara emiten chip AI Cerebras melesat 68,2 persen pada debut perdananya.