Bursa saham Korea Selatan kembali melemah pada perdagangan Rabu (20/5) akibat aksi ambil untung investor asing serta sentimen negatif dari pasar keuangan Wall Street. Penurunan ini menandai kemerosotan indeks acuan KOSPI selama dua sesi berturut-turut.
Indeks KOSPI merosot sebesar 144,22 poin atau turun 1,98 persen menuju ke level 7.127,44 pada perdagangan siang waktu setempat, sebagaimana dilansir dari Internasional. Penurunan tajam ini terjadi setelah indeks tersebut juga jatuh hingga 3,25 persen pada hari sebelumnya.
Koreksi beruntun ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi pasar modal diperparah oleh aksi jual bersih yang dilakukan oleh pemodal internasional.
Analis Han Ji-young dari Kiwoom Securities menyoroti adanya peningkatan kewaspadaan di kalangan pelaku pasar modal setempat terkait arah pergerakan dana eksternal tersebut.
"Pasar mulai cemas karena koreksi jangka pendek yang berlangsung dipimpin oleh investor asing," ujar Han Ji-young, Analis Kiwoom Securities.
Merespons tingginya volatilitas pasar keuangan, Menteri Keuangan Korea Selatan dan gubernur bank sentral setempat segera mengadakan kesepakatan bersama. Otoritas moneter tersebut berkomitmen untuk bekerja sama dalam menjaga stabilitas makroekonomi domestik.
Penurunan indeks ini turut menyeret harga saham sejumlah perusahaan raksasa teknologi, otomotif, serta manufaktur nasional. Nilai saham Samsung Electronics terpangkas 0,54 persen di tengah konflik internal serikat pekerja, sementara SK hynix ikut melemah sebesar 1,20 persen.
Sektor kendaraan listrik dan manufaktur lain juga mengalami nasib serupa dengan koreksi yang cukup signifikan. Saham LG Energy Solution anjlok 3,81 persen, diikuti oleh penurunan Hyundai Motor sebesar 2,98 persen, Kia 4,26 persen, POSCO Holdings 5,90 persen, dan Samsung Biologics 3,05 persen.
Dari total 913 saham yang ditransaksikan di bursa, sebanyak 845 saham bergerak melemah dan hanya 56 saham yang mampu menguat. Investor asing membukukan penjualan bersih senilai 1,6 triliun won atau berkisar US$1,06 miliar, yang memperpanjang tren jual selama 10 sesi beruntun.
Pada pasar valuta asing, nilai tukar won Korea melemah 0,17 persen ke posisi 1.511,3 per dolar AS. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan tenor tiga tahun merangkak naik 4 basis poin menjadi 3,792 persen.