Pasar modal China mencatatkan lonjakan signifikan pada sesi perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Pergerakan positif ini dipicu oleh melesatnya harga saham di sektor teknologi serta tumbuhnya kepercayaan investor terhadap prospek industri kecerdasan buatan (AI).
Kenaikan tersebut mendorong indeks saham utama di China mencapai titik tertinggi dalam hampir 11 tahun terakhir. Berdasarkan data yang dikutip dari Money, indeks Shanghai Composite menguat 0,9 persen hingga menyentuh level 4.219,13 pada jeda siang.
Pencapaian indeks Shanghai tersebut menandai posisi tertinggi sejak 1 Juli 2015 silam. Tidak hanya itu, indeks CSI 300 yang menaungi saham-saham unggulan turut terkerek 1,4 persen, mencatatkan level tertinggi dalam kurun waktu lebih dari empat tahun.
Industri teknologi menjadi mesin utama yang menggerakkan bursa saham China ke zona hijau. Sentimen positif ini berakar dari optimisme para pemodal terhadap potensi besar pengembangan AI di skala global.
Gelombang reli ini juga merambah ke berbagai bursa di kawasan Asia. Di China, indeks CSI Semiconductor melonjak drastis sebesar 7,3 persen dan berhasil mencetak rekor sejarah baru.
Indeks sektoral lainnya, yakni CSI AI, naik 3 persen, sementara indeks sektor teknologi informasi melompat 4,8 persen. Keduanya secara bersamaan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada hari ini.
Penguatan juga terlihat pada indeks STAR50 yang fokus pada inovasi teknologi dengan kenaikan 5,3 persen. Sementara itu, indeks ChiNext yang berbasis di Shenzhen ikut bertambah sebesar 3 persen.
Dorongan Data Ekspor dan Tekanan Inflasi
Laju pasar saham juga mendapat amunisi dari data ekspor China bulan April 2026 yang menunjukkan performa kuat. Pabrik-pabrik di negara tersebut dilaporkan meningkatkan kapasitas produksi demi memenuhi permintaan perangkat keras AI global.
Kondisi ini diperkuat dengan langkah para pembeli internasional yang mulai menumpuk komponen elektronik. Tindakan tersebut merupakan antisipasi terhadap ketidakpastian situasi geopolitik akibat konflik yang melibatkan Iran.
Di sisi lain, indikator ekonomi terbaru menunjukkan adanya kenaikan tekanan harga di dalam negeri. Producer Price Index (PPI) China pada April melampaui estimasi pasar dan menembus level tertinggi dalam 45 bulan terakhir.
Inflasi di tingkat konsumen juga merangkak naik sebagai dampak dari tingginya harga energi di pasar global. Meski demikian, para analis melihat sisi positif dari tren permintaan komputasi global saat ini.
"Meningkatnya permintaan komputasi AI global akan terus mendorong ekspor terkait semikonduktor ke depannya," tulis analis CITIC Securities dalam catatannya.
Lembaga riset tersebut juga menekankan bahwa keunggulan biaya manufaktur yang dimiliki China kini menjadi jauh lebih kompetitif dibandingkan negara produsen lainnya.
Antisipasi Diplomasi Tingkat Tinggi
Saat ini pelaku pasar tengah menantikan momentum pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan Presiden China, Xi Jinping. Pertemuan strategis ini dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.
Sejumlah isu krusial diprediksi menjadi agenda utama pembicaraan, mulai dari ketegangan di Taiwan, krisis Iran, hingga regulasi perkembangan teknologi AI. Analis dari Nomura menyebut pertemuan ini sangat vital bagi stabilitas hubungan bilateral.
"Di tengah meningkatnya ketegangan di seluruh dunia, pertemuan puncak ini dapat menjadi langkah di mana kedua kekuatan dominan tersebut mengelola persaingan mereka, menjaga ketenangan yang rapuh, dan menghindari kehancuran total hubungan melalui diplomasi pribadi tingkat tinggi," tulis analis Nomura.
Berbeda dengan tren positif di China daratan, bursa Hong Kong justru menunjukkan pelemahan tipis. Indeks Hang Seng terpantau turun 0,3 persen dan berada di level 26.318,37 pada periode yang sama.