Aktivitas konsumsi domestik Indonesia bergerak semakin cepat setelah penjualan ritel pada Februari 2026 tumbuh kuat sebesar 6,5 persen secara tahunan. Data Bank Indonesia menunjukkan Indeks Penjualan Riil mencatatkan lonjakan ke level 232,7 dari posisi 223,6 pada bulan sebelumnya.
Pertumbuhan ini melampaui perkiraan dan menjadi sinyal positif bagi perekonomian domestik, seperti dilansir dari Investortrust. Lonjakan penjualan suku cadang serta aksesori sebesar 13.1 persen mengindikasikan pengeluaran diskresioner masyarakat tetap kuat di tengah fluktuasi pasar ekspor global.
Sektor makanan, minuman, dan tembakau juga ikut menyokong pemulihan dengan mencatatkan pertumbuhan 8,8 persen secara tahunan. Selain itu, sub-sektor pakaian tetap mampu tumbuh sehat sebesar 4,9 persen meskipun di tengah tekanan inflasi.
"This growth was supported by increased sales across most groups, especially the spare parts and accessories group, the food, beverage, and tobacco group, and the clothing sub-group," ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, dalam konferensi pers pada Senin, 13 April 2026.
Peningkatan aktivitas belanja ini tidak hanya berpusat di Jakarta yang mencatat kenaikan stabil 3,2 persen. Sejumlah pusat ekonomi daerah justru menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih agresif.
Surabaya membukukan kenaikan ritel yang signifikan mencapai 13,2 persen. Sementara itu, Banjarmasin memimpin pertumbuhan di seluruh wilayah Nusantara dengan lonjakan aktivitas penjualan mencapai 15 persen.
Bank Indonesia memproyeksikan tren positif ini akan terus berlanjut hingga pertengahan tahun. Optimisme tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan untuk Mei dan Agustus yang masing-masing berada di level 147,2 dan 162,4.
Siklus perayaan hari besar keagamaan seperti Iduladha dan Waisak menjadi pendorong utama momentum belanja tersebut. Faktor lain yang ikut memicu peningkatan konsumsi adalah dimulainya tahun ajaran baru sekolah pada bulan Agustus.
Antisipasi Tekanan Inflasi
Meskipun angka penjualan melonjak, Bank Indonesia tetap mengawasi potensi kenaikan tekanan harga. Indeks Ekspektasi Harga untuk Mei merangkak naik ke level 157,5 dari posisi 153,9 pada April akibat kenaikan harga bahan baku.
Walaupun ada risiko kenaikan inflasi dalam jangka pendek, otoritas moneter memperkirakan tekanan ini akan mulai melandai pada akhir kuartal ketiga. Proyeksi inflasi untuk Agustus diprediksi tetap stabil pada level 157,2 seiring langkah BI mengoptimalkan instrumen moneter sepanjang awal 2026.