Inaplas Dorong Penguatan Produk Lokal di Tengah Pelemahan Rupiah

Inaplas Dorong Penguatan Produk Lokal di Tengah Pelemahan Rupiah
Foto: Ilustrasi Inaplas Dorong Penguatan Produk Lokal di Tengah Pelemahan Rupiah.

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai menjadi momentum tepat untuk memperkuat penggunaan produk dalam negeri. Langkah ini sangat penting dilakukan pada sektor petrokimia dan plastik.

Dikutip dari Industri, pelaku usaha menganggap strategi tersebut krusial untuk menekan ketergantungan terhadap produk impor. Selain itu, optimalisasi produk lokal dapat menjaga daya tahan industri nasional dari gejolak global.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Edi Rivai menyatakan bahwa sektor petrokimia dan plastik domestik sebenarnya mampu memenuhi mayoritas kebutuhan pasar, baik bahan baku maupun barang jadi.

"Dalam kondisi pelemahan rupiah saat ini, yang paling penting adalah memperkuat penggunaan produk dalam negeri. Industri petrokimia dan plastik nasional sudah mampu memproduksi berbagai bahan baku dan barang jadi plastik untuk kebutuhan pasar domestik," ujar Edi kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).

Peningkatan pemakaian produk lokal dipercaya dapat membantu pelaku usaha meminimalkan ketergantungan pada material impor yang sensitif terhadap fluktuasi kurs. Pemanfaatan mata uang rupiah dalam transaksi domestik juga diproyeksikan mampu meredam tekanan biaya produksi.

Edi memandang perusahaan domestik harus terus didorong untuk memprioritaskan barang petrokimia dan plastik buatan lokal. Kebijakan ini diyakini mampu memperkokoh struktur manufaktur sekaligus menstabilkan rantai pasok.

"Dengan semakin banyak menggunakan produk dalam negeri, maka ketergantungan impor bisa ditekan dan industri nasional akan lebih tahan terhadap gejolak ekonomi global," katanya.

Penggunaan produk lokal yang lebih masif juga diprediksi membawa dampak positif bagi peningkatan utilitas produsen petrokimia dan pengrajin plastik nasional. Pada perkembangannya, tren ini dapat mempertahankan ketersediaan lapangan kerja di sektor industri.

"Inisiatif ini penting agar industri dalam negeri tetap kompetitif dan memiliki basis pasar yang kuat," ujarnya.

Kendati demikian, Edi menyebutkan adanya lonjakan volume impor bahan baku bijih yang cukup besar sepanjang Maret hingga April 2026. Pasokan tersebut mayoritas berasal dari China.

Fenomena tersebut dipandang sebagai alarm bahwa program substitusi impor di dalam negeri masih perlu diakselerasi secara agresif.

"Tren kenaikan impor bahan baku bijih pada Maret dan April 2026 cukup tinggi dan signifikan, khususnya dari China. Ini menjadi sinyal bahwa substitusi impor dan penggunaan produk dalam negeri perlu semakin diperkuat," tandasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi