Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan nilai impor bahan baku dan barang modal Indonesia pada Maret 2026 di tengah penurunan permintaan barang konsumsi dari luar negeri. Tren positif pada sektor penunjang industri ini memberikan sinyal bahwa aktivitas manufaktur dan investasi domestik masih menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Data terbaru yang dilansir dari Ekonomi menunjukkan nilai impor bahan baku/penolong mencapai US$13,77 miliar pada periode tersebut. Angka ini mengalami pertumbuhan sebesar 2,15% secara tahunan dibandingkan periode Maret 2025 yang tercatat sebesar US$13,48 miliar.
Sektor bahan baku menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi pertumbuhan sebesar 1,53% terhadap total impor nasional. Peningkatan ini mencerminkan tingginya ketergantungan industri dalam negeri terhadap pasokan input dari pasar global untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Kinerja positif juga terlihat pada kelompok barang modal yang nilainya menyentuh US$3,89 miliar pada Maret 2026. Terdapat kenaikan sebesar 4,98% dibandingkan capaian Maret tahun sebelumnya yang berada di angka US$3,70 miliar, yang mengindikasikan adanya ekspansi kapasitas produksi dan investasi berkelanjutan.
Kondisi berbeda justru dialami oleh kelompok barang konsumsi yang mengalami kontraksi sebesar 10,81%. Nilai impor kategori ini menyusut dari US$1,74 miliar pada Maret 2025 menjadi US$1,55 miliar pada Maret 2026, yang menandakan pelemahan permintaan masyarakat terhadap produk jadi dari mancanegara.
Meskipun pertumbuhan impor sempat berfluktuasi sejak awal 2025, struktur impor Maret 2026 yang didominasi barang modal dan bahan baku dinilai menjadi indikator positif bagi prospek ekonomi. Peningkatan pengadaan mesin dan peralatan industri diharapkan memperkuat pondasi pertumbuhan ekonomi nasional di masa mendatang.