Direktorat Jenderal Imigrasi tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait penyebaran informasi bohong mengenai dugaan kebocoran dan penjualan 3 juta data paspor di situs gelap. Kepastian mengenai status hoaks tersebut disampaikan oleh pihak otoritas pada Kamis (30/4/2026) di Jakarta Pusat.
Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, memberikan bantahan keras terhadap kabar yang menyebutkan bahwa jutaan data identitas visa hingga nomor paspor telah dibobol oleh peretas. Sebagaimana dilansir dari Nasional, tim internal kini sedang menelusuri asal-usul klaim palsu yang sempat viral di media sosial tersebut.
"Hoaks. Sedang kita usut," kata Hendarsam saat ditemui di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026).
Langkah investigasi ini dipicu oleh unggahan akun @DailyDarkWeb di platform X yang mengeklaim adanya pembobolan sistem eVisa Indonesia. Akun tersebut menarasikan bahwa seorang peretas telah mendapatkan akses terhadap identitas lengkap pemilik visa dan paspor untuk diperjualbelikan.
Pemeriksaan awal oleh pihak Imigrasi menemukan indikasi bahwa akun yang menyebarkan informasi tersebut merupakan akun baru yang diduga dibuat secara sengaja. Hendarsam menegaskan bahwa penyebaran berita tanpa dasar ini harus mendapatkan penanganan secara hukum.
"Artinya mens rea-nya udah ada, dia buat akunnya itu memang untuk menyebarkan itu kan seperti itu. Jadi tinggal kita tindak lanjuti," tegas Hendarsam.
Pihak Ditjen Imigrasi juga telah melakukan pengecekan teknis secara menyeluruh terhadap infrastruktur siber mereka. Penegasan diberikan bahwa seluruh data yang diklaim bocor tersebut tidak memiliki kesesuaian dengan basis data yang dimiliki oleh instansi terkait.
"Jadi itu kita katakan itu hoaks. Sistem keamanan digital kita sudah cukup baik, cukup kuat, dan berlapis. Tidak masuk akal kalau itu dari kita dan sudah kita cek bukan dari kita," jelas Hendarsam.