Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia mencatatkan pembalikan arah menguat pada penutupan sesi I, Jumat (22/5/2026). Seperti dilansir dari Investortrust, indeks terpantau naik sebesar 18,5 poin atau 0,30% ke level 6.114,44.
Sebelum berhasil bangkit ke zona hijau, pergerakan IHSG sempat mengalami tekanan hebat. Indeks bahkan sempat merosot hingga menyentuh level terendah di bawah angka psikologis 6.000, tepatnya pada posisi 5.966.
Arah penguatan IHSG sejalan dengan tren positif yang terjadi di mayoritas pasar saham kawasan Asia. Performa indeks disokong oleh kenaikan di sejumlah sektor seperti energi, material dasar, konsumer primer, infrastruktur, serta transportasi.
Di sisi lain, beberapa sektor justru masih mengalami pelemahan pada sesi pertama ini. Sektor-sektor yang terkoreksi meliputi konsumer non-primer, keuangan, dan properti.
Laju indeks pada paruh pertama hari ini terdongkrak oleh penguatan saham-saham emiten yang terafiliasi dengan Boy Thohir. Saham EMAS melesat 18,44% ke Rp 7.225, MDKA naik 16,97% menjadi Rp 2.550, dan MBMA menguat 5% ke level Rp 462.
Pembalikan arah IHSG juga didukung oleh momentum rebound dari saham emiten milik Prajogo Pangestu. Jajaran saham tersebut di antaranya adalah BREN, BRPT, PTRO, dan CDIA.
Berdasarkan data perdagangan, terdapat lima saham yang mencatatkan keuntungan tertinggi atau top gainers sepanjang sesi I. Saham DFAM memimpin dengan kenaikan 23,85% ke posisi Rp 135.
Selanjutnya, saham KOKA melonjak 20,37% menjadi Rp 130 dan EMAS meningkat 18,44% ke level Rp 7.225. Saham MDKA juga melaju 16,97% ke Rp 2.550, diikuti oleh ENRG yang menguat 15,57% ke posisi Rp 1.410.
Sentimen Tekanan Hari Sebelumnya
Kondisi ini berbanding terbalik dengan perdagangan hari sebelumnya, di mana IHSG ditutup anjlok signifikan sebesar 223,56 poin atau 3,54%. Koreksi dalam tersebut melempar indeks ke bawah level 6.100, tepatnya di posisi 6.094.
Penurunan tajam pada hari kemarin membuat total pelemahan IHSG mencapai akumulasi 11% dalam lima hari terakhir. Aktivitas pemodal asing juga mencatatkan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai mencapai Rp 508 miliar.Tekanan berat pada hari sebelumnya dipicu oleh respons pasar terhadap pernyataan dari S&P Global Ratings. Lembaga pemeringkat tersebut menilai wacana pengendalian ekspor berpotensi menekan kinerja ekspor nasional serta penerimaan pemerintah.
S&P Global Ratings juga menyebutkan kebijakan tersebut berisiko meningkatkan beban pada neraca pembayaran Indonesia. Hal inilah yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek stabilitas makroekonomi serta outlook rating Indonesia.
Daftar Koreksi Sektor dan Emiten Konglomerasi
Pada perdagangan kemarin, sektor material dasar memimpin kejatuhan dengan kemerosotan mencapai 6,53%. Sektor energi juga melemah sedalam 6,91%, sementara sektor konsumer primer terpangkas 6,05%.
Koreksi juga melanda sektor industri sebesar 5,37% dan sektor infrastruktur yang turun 5,58%. Sementara itu, sektor transportasi mengalami pelemahan sebesar 4,92%.
Kejatuhan pasar pada hari sebelumnya turut menyeret saham-saham dari emiten konglomerasi besar. Penurunan paling signifikan melanda kelompok saham milik Prajogo Pangestu yang dipimpin oleh ARB saham TPIA.
Selain itu, pelemahan juga membayangi jajaran saham dari emiten grup Sinarmas. Tren penurunan serupa dialami oleh saham emiten terafiliasi Boy Thohir, emiten Happy Hapsoro, hingga sejumlah grup konglomerasi lainnya.