Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan pada penutupan sesi pertama perdagangan Senin, 4 Mei 2026. Melansir data perdagangan, indeks saham domestik ini terangkat 11 poin atau sebesar 0,17 persen menuju posisi 6.968.
Kenaikan ini sejalan dengan pulihnya optimisme di pasar global. Dilansir dari Suara, riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama pendorong minat investor.
Pasar memberikan respons positif terhadap pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai rencana pengawalan kapal di Selat Hormuz. Selain itu, muncul sinyal kemajuan dalam negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Kondisi tersebut dinilai efektif dalam menekan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia. Turunnya tekanan pada harga komoditas energi ini secara otomatis meredam ekspektasi inflasi dan mendorong aliran modal ke aset berisiko.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi yang solid turut memberikan tenaga tambahan bagi pergerakan IHSG. Badan Pusat Statistik melaporkan realisasi inflasi pada April 2026 terkendali di angka 0,13 persen secara bulanan atau 2,42 persen secara tahunan.
Kepercayaan investor juga diperkuat oleh pencapaian neraca perdagangan Maret 2026 yang membukukan surplus hingga 3,32 miliar dolar AS. Angka ini didapat dari total ekspor senilai 22,53 miliar dolar AS yang tumbuh 3,10 persen.
Sementara itu, nilai impor Indonesia pada periode yang sama mengalami kenaikan 1,51 persen menjadi 19,21 miliar dolar AS. Surplus yang konsisten ini dipandang mampu menjaga stabilitas eksternal dan memperkokoh daya tahan ekonomi nasional.
Namun, pelaku pasar tetap memberikan perhatian pada data sektor manufaktur. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Indonesia dari S&P Global tercatat turun ke level 49,1 pada April 2026, berbanding 50,1 pada bulan sebelumnya.
Penurunan ini mengindikasikan sektor manufaktur sedang berada di zona kontraksi. Melemahnya daya beli masyarakat serta kenaikan harga bahan baku akibat kendala pasokan global menjadi pemicu melambatnya aktivitas produksi nasional.
Berdasarkan data perdagangan sesi I, volume saham yang berpindah tangan mencapai 43,59 juta lembar. Total nilai transaksi tercatat sebesar Rp 14,87 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 1,55 juta kali.
Statistik menunjukkan sebanyak 359 saham bergerak menguat, 337 saham mengalami penurunan, dan 263 saham lainnya stagnan. Beberapa emiten yang mengisi daftar top gainers antara lain BCIP, PTSP, ZONE, HERO, dan YPAS.
Di sisi lain, saham-saham yang masuk dalam jajaran top losers meliputi ASDM, COAL, TOOL, BOBA, serta INPS. Untuk rekomendasi harian, saham OASA disarankan dengan rating buy pada area support 398 dan resistance 434.