IHSG Merosot ke Level 6.144 pada Perdagangan Sesi Pertama

IHSG Merosot ke Level 6.144 pada Perdagangan Sesi Pertama
Foto: Ilustrasi IHSG Merosot ke Level 6.144 pada Perdagangan Sesi Pertama.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan sebesar 2,76 persen ke level 6.144,35 pada perdagangan sesi pertama, Kamis (21/5/2026). Penurunan indeks domestik ini terjadi di tengah tren penguatan yang dicatatkan oleh sejumlah bursa saham utama di kawasan Asia, dilansir dari Investasi berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI.

Ketika pasar saham Indonesia tertekan, bursa regional justru bergerak positif seperti indeks KOSPI Korea Selatan yang melonjak di atas 6 persen dan Nikkei Jepang yang menguat lebih dari 3 persen. Sementara itu, indeks Shanghai Composite China juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,11 persen pada periode perdagangan yang sama.

Faktor domestik dinilai menjadi pemicu utama koreksi indeks saham dalam negeri, mulai dari sensitivitas pasar terhadap isu fiskal, tekanan nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan ekonomi dari pemerintahan baru. Tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar kian meningkat karena investor asing masih terus melakukan aksi jual bersih.

Analis Elandry menjelaskan bahwa area 6.000 hingga 6.200 kini menjadi level psikologis dan teknikal yang realistis bagi pergerakan indeks. Risiko penurunan lebih lanjut masih terbuka lebar apabila tekanan dari mata uang asing serta pelemahan rupiah tidak kunjung mereda di pasar.

"Namun kalau melihat kondisi sekarang, menurut saya peluang IHSG turun jebol di level tersebut masih sangat mungkin, terutama karena tekanan nilai tukar rupiah yang belum stabil," kata Elandry.

Risiko kerugian kurs membuat pemodal luar negeri memilih untuk bersikap menunggu atau menarik dana mereka keluar dari pasar saham Indonesia. Selain masalah mata uang, penurunan ini dipengaruhi oleh repricing valuasi akibat kenaikan risk premium Indonesia serta pelemahan saham sektor perbankan besar yang memiliki bobot dominan.

"Namun jika rupiah stabil dan arus asing mulai kembali masuk, koreksi bisa lebih terbatas," ucap Elandry.

Beberapa sentimen pengungkit yang berpotensi membalikkan arah IHSG meliputi stabilisasi mata uang, kepastian kebijakan fiskal, penurunan tensi geopolitik, serta potensi pemangkasan suku bunga The Fed. Investor disarankan untuk tetap selektif dengan berfokus pada saham fundamental kuat dan menghindari emiten berutang tinggi, seperti saham BBCA, BBRI, dan TLKM untuk jangka menengah.

Artikel terkait

Rekomendasi