Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (13/5) di zona merah dengan penurunan sebesar 1,98 persen menuju level 6.723,32. Geliat pasar domestik terpantau tertekan oleh maraknya aksi jual yang dilakukan investor asing serta pengaruh sentimen penyesuaian indeks global, seperti dikutip dari Detik Finance.
Melalui rilis PT Mega Capital Sekuritas, lini bisnis CT Corpora yang beroperasi sejak 1991, data perdagangan memperlihatkan pelepasan aset oleh pemodal asing mencapai Rp1,35 triliun di pasar reguler. Sementara itu, catatan penjualan bersih di seluruh pasar menyentuh angka sekitar Rp1,53 triliun.
Kemerosotan pasar ikut dipicu oleh pelemahan mayoritas sektor saham, di mana sektor basic industry mencatatkan koreksi paling dalam hingga 4,43 persen. Di lain sisi, sektor transportation menjadi satu-satunya sektor yang bertahan dan melesat naik hingga 4,89 persen.
Beberapa saham yang bergerak melawan arus dan menyokong indeks antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang menguat 4,52 persen. Selain itu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menanjak 12,18 persen, serta PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) yang melesat 11,11 persen.
Sebaliknya, koreksi tajam menimpa sejumlah emiten berkapitalisasi besar dan sektor energi. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyusut 3,11 persen, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) anjlok 14,85 persen, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merosot 11,36 persen.
Sentimen negatif global turut membayangi bursa saham Amerika Serikat yang ikut berakhir di zona merah. Indeks Dow Jones terpangkas 1,07 persen ke posisi 49.526, S&P 500 melemah 1,24 persen ke angka 7.408, sedangkan Nasdaq terkoreksi 1,54 persen menuju 26.225.
Para pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi efek penyesuaian bobot portofolio atau rebalancing MSCI yang diperkirakan belum sepenuhnya usai. Beriringan dengan itu, FTSE Russell menetapkan kebijakan penghapusan saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) mulai 22 Juni 2026.
Pada agenda evaluasi indeks Juni 2026, FTSE Russell menerapkan pembaruan Industry Classification Benchmark (ICB) beserta penyesuaian bobot saham triwulanan tanpa buffer 1 persen. Ditambah lagi, terdapat penyesuaian free float tanpa buffer 3 persen.
Emiten dengan status HSC nantinya bakal diberikan harga teoritis nol untuk membantu mempermudah para investor pasif dalam menata ulang portofolio mereka. Kebijakan baru ini dinilai memberikan dampak signifikan terhadap dua emiten besar.
Dua entitas yang paling terimbas adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan rasio HSC sebesar 97,31 persen, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang mencapai 95,76 persen. Tekanan terhadap DSSA diproyeksikan lebih tinggi mengingat bobotnya di FTSE Indonesia Index berada pada angka 3,14 persen, sedangkan BREN di bawah 2,60 persen.
Perbaikan Kinerja GIAA dan Rencana Stock Split RAJA
Di tengah dinamika pasar, GIAA memaparkan pertumbuhan performa keuangan pada triwulan pertama tahun 2026. Pendapatan usaha perseroan naik 5,36 persen secara tahunan menjadi US$762,35 juta, naik dibanding capaian periode yang sama tahun lalu sebesar US$723,56 juta.
Volume penumpang GIAA turut terkerek naik 6,76 persen hingga menjangkau 5,42 juta orang, ditopang oleh penambahan frekuensi penerbangan sebesar 5,87 persen menjadi 19.337 perjalanan. Pada saat bersamaan, beban usaha maskapai ini turun tipis menjadi US$713,220 juta.
Berkat efisiensi tersebut, rugi periode berjalan GIAA berhasil dipangkas sebesar 54,81 persen menjadi US$41,62 juta dari posisi sebelumnya US$75,93 juta. Secara teknikal jangka pendek, pergerakan saham GIAA masih dalam tren melemah namun memiliki ruang penguatan menuju Rp66.
Sementara itu, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tengah bersiap menggulirkan aksi korporasi pemecahan nilai nominal saham atau stock split dengan rasio 1:5 setelah mengantongi persetujuan Bursa Efek Indonesia pada 5 Mei 2026. Langkah ini akan meningkatkan jumlah saham beredar dari 4,23 miliar menjadi 21,14 miliar lembar saham.
Mengacu pada harga penutupan 13 Mei di level Rp4.400 per saham, harga saham RAJA setelah stock split secara teoritis akan disesuaikan menjadi Rp880 per lembar. Manajemen kini menunggu ketetapan para pemegang saham melalui RUPS yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026.
Berdasarkan regulasi POJK 15/2022, eksekusi pemecahan saham ini wajib diselesaikan paling lambat 30 hari kalender pasca RUPSLB menetapkan persetujuan. Manajemen RAJA menargetkan perdagangan pasar dengan nominal baru tersebut sudah bisa dimulai pada 16 Juli 2026.