Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menguat 1,43 persen ke level 6.217 pada akhir sesi I perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, di tengah momentum krusial penyesuaian portofolio atau rebalancing MSCI.
Penguatan indeks sebesar 87,69 poin tersebut terjadi saat pasar saham dalam negeri memasuki periode penting penataan ulang indeks global, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Meskipun performa indeks bergerak positif, aksi jual oleh pemodal internasional tetap membayangkan perdagangan dengan catatan jual bersih atau net sell asing mencapai Rp 1,64 triliun.
Pelepasan aset terkonsentrasi pada dua emiten besar, yakni saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai net sell Rp 948 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 594 miliar.
Penataan portofolio oleh pengelola dana pasif diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir pekan ini, meskipun pergerakan pasar menunjukkan reposisi telah dilakukan sejak pengumuman resmi pada pertengahan Mei.
Fluktuasi yang membayangkan emiten terdepak dari indeks acuan dinilai tidak memicu kepanikan massal karena lebih disebabkan oleh faktor teknis metodologi pembobotan dan likuiditas.
"Penghapusan emiten dari indeks MSCI bukan mencerminkan penurunan fundamental. Banyak perusahaan yang dikeluarkan justru punya kinerja kuat, prospek baik, dan valuasi yang saat ini semakin menarik," ujar Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee.
Penurunan harga saham akibat tekanan teknis dinilai dapat menjadi titik terendah bagi pergerakan indeks sebelum kembali menguat mengikuti pertumbuhan kinerja emiten secara agregat.
"Pasca rebalancing, IHSG punya peluang besar kembali bangkit. Banyak saham berfundamental kuat yang sudah turun terlalu dalam karena tekanan teknikal, bukan karena penurunan kinerja," jelas Hans Kwee.
Proses pemulihan indeks diperkirakan mulai berjalan terukur pada awal Juni 2026, didukung oleh langkah reformasi pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan bersama Self-Regulatory Organization.
Langkah perbaikan mencakup peningkatan transparansi serta tata kelola ekosistem pasar yang diproyeksikan menarik akumulasi beli investor pada saham unggulan di sektor keuangan, konsumsi, telekomunikasi, energi, dan tambang.