Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada akhir perdagangan Senin (18/5/2026). Dikutip dari Investor Daily, indeks saham acuan domestik ini terkoreksi sebesar 124,08 poin atau merosot 1,85 persen menuju level 6.599,2.
Aktivitas perdagangan di bursa mencatatkan total nilai transaksi yang menembus Rp 20,59 triliun. Secara keseluruhan, pergerakan saham didominasi oleh tren pelemahan dengan rincian 647 saham melempem, 183 saham bergerak stagnan, dan hanya 129 saham yang berhasil menguat.
Volume perdagangan pada hari tersebut dilaporkan menyentuh angka 29,7 miliar lembar saham. Sementara itu, frekuensi transaksi secara keseluruhan tercatat dilakukan sebanyak 2,54 juta kali.
Seluruh sektor saham kompak menapak zona merah pada penutupan pasar kali ini. Sektor transportasi menjadi lini yang paling tertekan dengan penurunan mencapai 6,2 persen, disusul oleh sektor barang baku yang merosot sebesar 5,17 persen.
Pelemahan ini juga merembet ke sektor perindustrian yang turun 3,24 persen serta sektor infrastruktur sebesar 2,98 persen. Sektor energi melemah 2,37 persen, properti terpangkas 2,22 persen, dan sektor teknologi mencatatkan penurunan sebesar 2,21 persen.
Selanjutnya, sektor barang konsumen non-primer turut terkikis 1,81 persen, diikuti sektor keuangan yang melemah 1,79 persen. Sektor barang konsumen primer mengalami koreksi 1,58 persen, sedangkan sektor kesehatan menjadi sektor dengan pelemahan paling dangkal sebesar 1,24 persen.
Geopolitik Global dan Nilai Tukar Rupiah Menjadi Pemicu
Berdasarkan analisis dari Pilarmas Investindo Sekuritas, pergerakan pasar global saat ini tengah dibayangi oleh ekskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kecemasan pelaku pasar terhadap potensi hambatan pasokan minyak mentah dunia.
Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan bahwa perpaduan antara perang tarif global dan konflik di Timur Tengah berisiko menahan laju pertumbuhan ekonomi China. Negara tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu motor utama penggerak perekonomian dunia.
Faktor eksternal ini diperparah oleh sentimen dari dalam negeri terkait volatilitas pasar keuangan yang kian meninggi. Gejolak ini sejalan dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang telah menembus angka Rp 17.600 per dolar AS.
Respons negatif dari para pelaku pasar juga dipicu oleh beberapa pernyataan dari pihak pemerintah mengenai depresiasi rupiah. Pernyataan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk memulihkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Pergerakan Saham Paling Untung dan Paling Buntung
Kendati kondisi indeks secara umum mengalami tekanan hebat, beberapa saham terpantau mencatatkan pertumbuhan harga yang signifikan. Lompatan harga pada barisan saham ini bergerak di rentang 12 persen hingga 31 persen dalam satu hari perdagangan.
Terdapat lima saham yang mencatatkan keuntungan terbesar bagi para pemegang sahamnya:
- PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) melonjak 31,33 persen ke harga Rp 109
- PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) melesat 18,28 persen ke harga Rp 3.430
- PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BPTR) terangkat 16,87 persen ke harga Rp 97
- PT Satyamitra Kemas Lestari Tbk (SMKL) meningkat 12,96 persen ke harga Rp 183
- PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) naik 12,32 persen ke harga Rp 155
Sebaliknya, tekanan pasar membuat sejumlah saham lainnya mengalami kejatuhan harga yang cukup dalam pada penutupan perdagangan hari ini. Barisan saham yang terjerembap di zona merah tersebut meliputi:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) longsor 14,98 persen ke harga Rp 880
- PT Chandra Asri Pasific Tbk (TPIA) ambles 14,88 persen ke harga Rp 3.660
- PT Pasific Strategic Financial Tbk (APIC) jatuh 14,81 persen ke harga Rp 1.495
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) terjungkal 14,75 persen ke harga Rp 2.890
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) terkikis 14,62 persen ke harga Rp 1.080