IHSG Melorot 38,5 Poin Pada Sesi I 20 Mei 2026

IHSG Melorot 38,5 Poin Pada Sesi I 20 Mei 2026
Foto: Ilustrasi IHSG Melorot 38,5 Poin Pada Sesi I 20 Mei 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah pada akhir sesi I, Rabu 20 Mei 2026. Data yang dikutip dari Investortrust menunjukkan indeks saham turun sebanyak 38,5 poin atau sebesar 0,60 persen.

Koreksi tersebut membawa IHSG ke level 6.332,18 pada paruh pertama perdagangan hari ini. Sepanjang sesi tersebut, pergerakan indeks berada dalam rentang nilai antara 6.215 hingga 6.459.

Nilai transaksi perdagangan saham di lantai bursa dilaporkan menyentuh angka Rp 13,17 triliun. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya sejumlah sektor saham, seperti material dasar, energi, properti, transportasi, teknologi, dan consumer primer.

Sebaliknya, penguatan justru melanda saham-saham di sektor keuangan dan consumer non-primer. Selain faktor sektor, kejatuhan indeks turut didorong oleh penurunan harga sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TPIA, AMMN, BREN, DSSA, dan UNTR.

Koreksi harga juga menekan saham RLCO, DCII, serta TKIM pada paruh pertama perdagangan. Meski indeks bergerak melemah, beberapa saham tetap mencatatkan lonjakan harga yang signifikan.

Saham ITND menguat 20 persen menjadi Rp 276, sedangkan ZONE naik 17,65 persen ke posisi Rp 400. Kenaikan juga dialami APIC sebesar 15,89 persen menjadi Rp 1.495, MORA naik 15,55 persen ke Rp 6.875, dan INDR menguat 15,53 persen menjadi Rp 2.380.

Pada hari perdagangan sebelumnya, bursa saham Indonesia juga mengalami penurunan tajam sebesar 228,56 poin atau 3,46 persen. Kejatuhan tersebut membawa indeks ke level terendah di posisi 6.370.

Dalam perdagangan tersebut, pemodal asing justru membukukan aksi beli bersih saham dengan nilai total mencapai Rp 260,12 miliar. Pembelian bersih oleh investor asing paling banyak menyasar saham MDKA senilai Rp 343,41 miliar.

Saham ADRO juga mencatatkan aksi beli bersih asing sebesar Rp 209,08 miliar, diikuti oleh saham MBMA senilai Rp 99,94 miliar. Sentimen negatif pasar saat itu dipicu oleh rencana pemerintah membentuk Badan Ekspor untuk perusahaan sumber daya alam.

Kondisi ini diperparah oleh merosotnya nilai tukar rupiah yang menyentuh level terendah baru di posisi Rp 17.706 per dolar AS setelah melemah beruntun dalam beberapa minggu terakhir.

Tekanan terbesar terhadap pergerakan indeks berasal dari koreksi mendalam di seluruh sektor saham. Sektor material dasar anjlok 7,30 persen, sektor energi turun 6,94 persen, dan sektor transportasi melemah 6,58 persen.

Sektor industri juga terpangkas 4,54 persen, sektor infrastruktur susut 4,13 persen, dan sektor consumer primer melemah 3,36 persen. Di sisi lain, saham sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang tumbuh dengan kenaikan 0,55 persen.

Di tengah kejatuhan pasar tersebut, beberapa saham masih mencatatkan lompatan harga yang mengesankan. Saham LCKM memimpin dengan kenaikan 33,93 persen menjadi Rp 150, dan RELI melonjak 24,48 persen ke posisi Rp 600.

Saham ASPR juga bergerak menguat sebesar 15,42 persen menjadi Rp 464. Sementara itu, saham FOOD mencatatkan kenaikan 10 persen ke level Rp 187, dan saham SRAJ menguat sebesar 9,06 persen menjadi Rp 13.850.

Artikel terkait

Rekomendasi