IHSG Melonjak 1,1 Persen Saat Investor Asing Catat Net Sell Rp 309,5 Miliar

IHSG Melonjak 1,1 Persen Saat Investor Asing Catat Net Sell Rp 309,5 Miliar
Foto: Ilustrasi IHSG Melonjak 1,1 Persen Saat Investor Asing Catat Net Sell Rp 309,5 Miliar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 67,1 poin atau 1,1% ke level 6.162 pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Sektor barang baku memimpin penguatan dengan kenaikan tertinggi mencapai 6,8%.

Seperti dikutip dari Investor Daily, investor asing justru kembali melancarkan aksi jual bersih atau net sell di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai mencapai Rp 309,5 miliar di seluruh pasar.

Aksi lepas saham oleh investor asing sepanjang tahun berjalan ini berdasarkan data BEI kini menembus total Rp 41,6 triliun. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi target lego terbesar di pasar reguler dengan nilai Rp 322,3 miliar.

Selain itu, investor asing melepaskan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 287,8 miliar. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga dilego masing-masing senilai Rp 156,4 miliar dan Rp 156,3 miliar.

Sebaliknya, aksi beli bersih atau net buy asing terbanyak menyasar saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) senilai Rp 173,6 miliar. Posisi ini diikuti oleh saham PT Timah Tbk (TINS) dengan catatan net buy sebesar Rp 80,9 miliar.

Pada penutupan perdagangan, tercatat sebanyak 466 saham mengalami kenaikan, 271 saham bergerak turun, dan 222 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi di bursa hari ini menyentuh angka Rp 20,1 triliun.

Selain barang baku, beberapa sektor turut menguat meliputi energi 4,8%, barang konsumen primer 2,5%, perindustrian 2,3%, infrastruktur 1,5%, dan transportasi 1,2%. Sektor barang konsumen non-primer naik 0,6%, teknologi 0,5%, kesehatan 0,19%, dan properti 0,15%, sedangkan sektor keuangan melemah 0,2%.

Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa penguatan IHSG dan bursa regional Asia sejalan dengan kenaikan di Wall Street. Sentimen positif ini dipicu oleh harapan publik akan potensi kesepakatan Amerika Serikat dengan Iran untuk menyudahi konflik.

Namun dari dalam negeri, pasar keuangan dan industri komoditas nasional masih tertekan akibat pelemahan kurs rupiah serta polemik rencana sentralisasi ekspor satu pintu. Menghadapi situasi ini, Danantara memberikan jaminan kebijakan.

Danantara menjamin kebijakan ini tidak akan mengganggu atau membatalkan kontrak jangka panjang eksportir swasta yang sudah berjalan. Di sisi lain, lembaga pemeringkat Moody's dan S&P memperingatkan risiko kebijakan baru tata kelola ekspor tersebut.

Kedua lembaga pemeringkat global tersebut mengingatkan bahwa aturan baru ekspor berisiko memicu distorsi pasar, menghambat kinerja ekspor, hingga mengancam penurunan peringkat utang Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi