IHSG Merosot ke Level 6.956 akibat Tekanan Jual Investor Asing

IHSG Merosot ke Level 6.956 akibat Tekanan Jual Investor Asing
Foto: Ilustrasi IHSG Merosot ke Level 6.956 akibat Tekanan Jual Investor Asing.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebesar 2,52 persen dibandingkan pekan sebelumnya dan ditutup pada posisi 6.956,80. Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual investor asing senilai Rp 5,8 triliun di pasar reguler yang memperburuk performa indeks sepanjang tahun 2026.

Data pergerakan pasar menunjukkan bahwa IHSG telah terkoreksi sebesar 19,55 persen sejak awal tahun jika dibandingkan dengan posisi penutupan akhir 2025 yang berada di level 8.646,93. Melansir laporan Money, indeks nasional ini telah mencatatkan tren negatif selama empat bulan berturut-turut di zona merah.

Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan dampak dari tekanan yang bersifat sistemik dan konsisten di pasar modal. Menurutnya, pelemahan pada April 2026 juga tercatat sebesar 1,30 persen.

ÔÇ£Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten. Bulan April 2026 ditutup dengan penurunan 1,30 persen," ujar David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas.

Faktor eksternal seperti kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve dan tingginya suku bunga menjadi penyebab utama arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Selain itu, ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan volatilitas harga energi.

Di sisi domestik, nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar AS turut mendorong investor asing melakukan pelepasan aset secara masif. Berdasarkan catatan pasar, total aksi jual bersih atau net sell sepanjang tahun 2026 telah menyentuh angka Rp 45,38 triliun.

David memprediksi bahwa pasar masih akan berada dalam kondisi penghindaran risiko atau risk-off secara moderat untuk periode 4 hingga 8 Mei 2026. Ia menekankan bahwa kenaikan biaya produksi global menjadi ancaman serius bagi daya beli masyarakat.

ÔÇ£Kondisi Selat Hormuz secara fundamental memberikan tekanan besar berupa kenaikan biaya produksi bagi negara-negara net importir energi, yang pada gilirannya dapat memicu risiko inflasi serta menggerus daya beli masyarakat,ÔÇØ papar David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas.

Sektor transportasi dan konsumsi diprediksi menjadi area yang paling rentan terdampak oleh lonjakan harga energi, sementara sektor nikel dan CPO dianggap lebih resilien. Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan menguji titik dukungan atau support pada rentang 6.918 hingga 6.696 dalam fase tren menurun jangka menengah.

Beberapa instrumen investasi yang menjadi perhatian pasar saat ini mencakup saham-saham berbasis komoditas dan obligasi negara dengan imbal hasil kompetitif. Berikut adalah daftar rekomendasi instrumen investasi dari PT Indo Premier Sekuritas:

Instrumen/SahamHarga Entry/KuponTarget Harga/YieldStop Loss
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)11.60012.20011.300
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)1.680 ÔÇô 1.7001.8001.620
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)1.7851.9601.700
Obligasi Seri FR1067,125%6,86% (Yield)-

Artikel terkait

Rekomendasi