Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 38 poin atau 0,60 persen ke level 6.332 pada sesi pertama perdagangan Rabu (20/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh aksi jual investor akibat gejolak tekanan global serta sentimen dari dalam negeri, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Analisis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menunjukkan bahwa pelemahan ini sejalan dengan mayoritas bursa Asia yang memerah menyusul koreksi di Wall Street. Investor global saat ini menghindari aset berisiko karena lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dipicu kekhawatiran inflasi akibat konflik AS-Iran.
Ketegangan geopolitik semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran dalam dua hingga tiga hari jika syarat perdamaian Washington tidak disetujui. Situasi ini mengganggu jalur perdagangan energi vital di Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
"Di saat bersamaan, konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia memperbesar kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya, Rabu (20/5/2026).
Kondisi eksternal tersebut memicu perubahan ekspektasi pelaku pasar secara drastis terkait kebijakan moneter global. Investor kini mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed sebelum akhir tahun, beralih dari proyeksi penurunan suku bunga sebelumnya.
"Konflik yang berkepanjangan secara efektif telah menutup Selat Hormuz yang strategis bagi lalu lintas pelayaran, sehingga mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset harian, Rabu (20/5/2026).
Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson mengonfirmasi sikap tersebut dengan menyatakan dukungannya untuk mempertahankan tingkat suku bunga saat ini. Langkah pemangkasan suku bunga baru akan diambil apabila data inflasi domestik AS telah menunjukkan penurunan yang konsisten.
Dari sektor domestik, pasar keuangan Indonesia turut menghadapi tekanan berupa pelemahan nilai tukar rupiah. Investor bersikap hati-hati menantikan pemungutan suara Senat AS terkait pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed serta keputusan kebijakan moneter dari dalam negeri.
"Selain itu, pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan lebih mengedepankan kebijakan pro-stabilitas di tengah tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik," papar Pilarmas Investindo Sekuritas.
Kekhawatiran pasar domestik juga dipengaruhi oleh rencana kebijakan ekonomi baru dari pemerintah. Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR menegaskan rencana pembentukan BUMN Khusus Ekspor yang akan mengintegrasikan seluruh penjualan komoditas sumber daya alam melalui satu pintu.
"Namun, pasar mulai mengkhawatirkan potensi menurunnya minat investasi di sektor komoditas akibat meningkatnya intervensi pemerintah," jelas Pilarmas Investindo Sekuritas.
Pada penutupan sesi pertama, pergerakan saham mencatatkan PT Inter Delta Tbk (INTD), PT Mega Perintis Tbk (ZONE), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan PT Indo Rama Synthetics Tbk (INDR) sebagai jajaran atas saham yang menguat.
Sebaliknya, barisan saham yang memimpin penurunan ditempati oleh PT Pakuan Tbk (UANG), PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), dan PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT).