IHSG Melemah ke Level 6318 akibat Tekanan Sentimen Global dan Domestik

IHSG Melemah ke Level 6318 akibat Tekanan Sentimen Global dan Domestik
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Level 6318 akibat Tekanan Sentimen Global dan Domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 0,82 persen atau terkoreksi 52,18 poin ke level 6.318,50 pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Penurunan performa indeks saham ini terjadi akibat kombinasi tekanan sentimen global dan domestik yang membayangi pasar modal, sebagaimana dilansir dari Investasi.

Kondisi pasar modal di dalam negeri bergerak fluktuatif sepanjang sesi pertama perdagangan sebelum akhirnya berakhir di zona merah berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia. Tekanan terhadap indeks terjadi secara bersamaan dengan sejumlah pengumuman kebijakan penting di dalam negeri serta situasi geopolitik internasional.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memberikan penjelasan mengenai volatilitas yang terjadi di pasar modal sepanjang hari perdagangan tersebut.

"IHSG ditutup terkoreksi 0,82% ke level 6.318,50 setelah bergerak volatile di tengah pidato Presiden dalam sidang paripurna. Di sisi lain, rupiah menguat di kisaran Rp 17.700 per dolar AS dan Bank Indonesia menaikkan suku bunga menjadi 5,25% untuk menstabilkan nilai tukar," ujarnya kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).

Secara teknikal, pergerakan indeks dinilai masih berada dalam tren menurun. Untuk perdagangan hari Kamis (21/5/2026), pergerakan indeks diperkirakan akan mengalami penguatan terbatas pada rentang support 6.184 dan resistance 6.388.

"Pasar masih akan tertekan dari aksi rebalancing MSCI dan juga sentimen regulasi barang tambang," tambahnya.

MNC Sekuritas turut memberikan beberapa rekomendasi saham untuk pelaku pasar, meliputi AMRT pada kisaran Rp 1.555 hingga Rp 1.635, HRTA di angka Rp 2.240 sampai Rp 2.370, serta MBMA pada rentang Rp 478 hingga Rp 520.

Pandangan senada disampaikan oleh pihak Pilarmas Investindo Sekuritas terkait faktor eksternal yang ikut memicu pelemahan mayoritas bursa di kawasan Asia.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik dengan Iran yang belum mereda, menjadi perhatian utama para investor global.

"Kondisi ini mendorong harga minyak tetap tinggi dan berpotensi menjaga tekanan inflasi global, sehingga membuka peluang bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat," jelasnya.

Faktor domestik lainnya yang direspons oleh pasar adalah pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai kerangka anggaran 2027 yang memuat rencana ekspor sumber daya alam satu pintu lewat BUMN. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar terkait intervensi negara, efisiensi, serta tata kelola.

Langkah Bank Indonesia meningkatkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin hingga mencapai level 5,25 persen menjadi strategi penahan tekanan eksternal terhadap mata uang rupiah. Untuk perdagangan berikutnya, IHSG diproyeksikan bergerak pada rentang 6.150 sampai 6.400 dengan area 6.100 sebagai level krusial yang harus dicermati.

Artikel terkait

Rekomendasi