Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi tajam sebesar 1,98 persen hingga parkir di level 6.723 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (13/5/2026). Pelemahan ini didorong oleh anjloknya sejumlah saham berkapitalisasi besar yang keluar dari perhitungan MSCI Indeks, terutama pada sektor material dasar.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Suara, indeks komposit terpangkas 135,579 poin dengan rentang pergerakan harian di posisi terendah 6.705 dan tertinggi 6.787. Aktivitas pasar mencatatkan total nilai transaksi sebesar Rp18,61 triliun yang melibatkan volume perdagangan 29,44 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 2,24 juta kali.
Data dari Phintraco Sekuritas menunjukkan tekanan paling dalam dialami oleh sektor material dasar yang ambruk hingga 4,43 persen. Posisi ini diikuti oleh pelemahan sektor infrastruktur sebesar 2,72 persen serta penurunan sektor energi yang mencapai 1,61 persen pada hari perdagangan yang sama.
Pada jajaran saham unggulan LQ45, saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi pemberat utama menyusul pengumuman rebalancing indeks global tersebut. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memimpin penurunan dengan anjlok 10,05 persen ke harga Rp 850 per lembar saham.
Koreksi signifikan juga menimpa PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun 8,77 persen ke level Rp 2.080. Sementara itu, emiten pertambangan emas milik Grup Salim, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), turut mencatatkan pelemahan sebesar 9,09 persen sehingga berada pada posisi Rp 3.700 per lembar.
Kondisi berbeda terlihat pada emiten unggas yang justru bergerak melawan arus dan mencatat penguatan signifikan di tengah lesunya pasar. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi pimpinan kenaikan di LQ45 setelah melesat 4,52 persen ke level 4.160, diikuti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang naik 4,10 persen ke posisi 2.540.
Daftar penguatan juga diikuti oleh PT Dewa United Tbk (DEWA) yang terapresiasi sebesar 2,11 persen ke level 484. Pada indeks syariah Jakarta Islamic Index (JII), CPIN dan JPFA kembali menjadi motor penggerak bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang mencatatkan kenaikan 1,98 persen ke harga 1.030.
Sebaliknya, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi yang paling tertekan di indeks JII dengan penurunan drastis mencapai 14,85 persen ke level 4.300. Emiten PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga terkoreksi 11,16 persen, sementara BRPT mengikuti tren negatif tersebut dengan penurunan 8,77 persen.
Meskipun indeks secara keseluruhan memerah, sektor transportasi muncul sebagai penopang pasar dengan pertumbuhan 4,89 persen, disusul sektor industri yang menguat 1,26 persen. Pada pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat 0,17 persen di posisi Rp17.460.