Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 135,58 poin atau 1,98 persen ke posisi 6.723,32 pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026) akibat respons pasar terhadap rebalancing indeks MSCI.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir dari Money menunjukkan indeks bergerak di kisaran 6.705,43 hingga 6.787,35 dengan nilai transaksi mencapai Rp 19,31 triliun dan volume perdagangan sebanyak 36,59 miliar lembar saham.
Penurunan ini juga menyeret indeks LQ45 sebesar 1,79 persen, KOMPAS100 menyusut 2,45 persen, serta Jakarta Islamic Index (JII) yang terkoreksi 2,59 persen di tengah pelemahan 428 saham emiten.
| Sektor | Perubahan (%) | Level Terakhir |
|---|---|---|
| Transportasi | +4,89 | 2.142,35 |
| Industri | +1,26 | 1.916,67 |
| Energi | -1,61 | 3.413,43 |
| Siklikal | -1,4 | 1.036,42 |
| Nonsiklikal | -0,44 | 726,60 |
| Keuangan | -0,58 | 1.357,28 |
| Infrastruktur | -2,72 | 2.061,46 |
| Properti | -0,7 | 895,41 |
| Barang Baku | -4,43 | 1.965,14 |
| Teknologi | -0,71 | 7.396,39 |
| Kesehatan | -1,22 | 1.602,74 |
Co Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, memberikan penjelasan mengenai fenomena penghapusan beberapa emiten Indonesia dari indeks global tersebut.
"Perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut," ujar Hans Kwee, Co Founder PasarDana.
Pihaknya menilai bahwa para pengelola dana sebenarnya telah memperkirakan langkah MSCI ini sejak jauh hari sebelum pengumuman resmi dikeluarkan.
"Selain itu banyak pelaku pasar dan fund manager sudah mengantisipasi penghapusan saham tersebut oleh MSCI dalam beberapa bulan terakhir. Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI," papar Hans Kwee, Co Founder PasarDana.
Ia menambahkan bahwa volatilitas yang terjadi saat ini merupakan kesempatan bagi pemodal untuk mengoleksi saham-saham berkualitas yang harganya sedang tertekan secara anomali.
"Di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa oleh fund manager pasif," tutur Hans Kwee, Co Founder PasarDana.
Faktor keterbukaan informasi dan pengawasan ketat dari otoritas berwenang dianggap menjadi kunci utama agar pasar modal domestik tetap kompetitif di mata investor internasional.
"Transparansi kini menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk mengikuti jejak sukses India. Dalam hal ini, peran OJK dan SRO sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi guna memastikan pasar yang lebih adil," lanjut Hans Kwee, Co Founder PasarDana.