Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka merosot 29,31 poin atau 0,48 persen ke posisi 6.065,63 pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, akibat besarnya tekanan jual investor, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Kondisi zona merah ini turut menyeret kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang mengalami penurunan sebesar 2,42 poin atau 0,39 persen menuju level 613,98.
Pelemahan indeks saham domestik dipicu oleh kombinasi sentimen internal, seperti rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam, ketegangan geopolitik Amerika Serikat-Iran, serta sikap hawkish The Fed.
Pergerakan pasar modal saat ini juga terbebani oleh nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang masih tertahan di kisaran Rp17.600 serta derasnya arus modal asing keluar yang mencapai lebih dari Rp51 triliun sejak awal tahun.
Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, menyampaikan bahwa fluktuasi indeks hari ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas mata uang nasional dan pergerakan dana asing.
"Jika Rupiah kembali melemah dan tekanan jual asing berlanjut, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support psikologis di 6.000," ujar Hendra.
Penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir dinilai telah menembus level batas bawah penting di 6.200 dan 6.100, sehingga mengonfirmasi terjadinya fase panic selling yang kuat.
"Area 6.000 menjadi benteng pertahanan terakhir. Jika level ini jebol, IHSG berisiko melanjutkan pelemahan menuju area 5.880 hingga 5.900. Sebaliknya, peluang technical rebound terbuka jika muncul aksi bargain hunting pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang sudah jenuh jual (oversold)," kata Hendra.
Di tengah tekanan domestik, bursa saham regional Asia pagi ini justru mencatat penguatan yang dipimpin oleh indeks Nikkei dengan kenaikan sebesar 2,34 persen.
| Indikator Pasar | Posisi/Perubahan |
|---|---|
| IHSG (Pembukaan) | 6.065,63 (-0,48%) |
| Indeks LQ45 | 613,98 (-0,39%) |
| Rupiah | Rp17.600 / USD |
| Outflow Asing (YTD) | > Rp51 Triliun |