IHSG Melemah 1,98 Persen Usai MSCI Coret 18 Saham Indonesia

IHSG Melemah 1,98 Persen Usai MSCI Coret 18 Saham Indonesia
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah 1,98 Persen Usai MSCI Coret 18 Saham Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 1,98 persen ke level 6.723,32 pada penutupan perdagangan Rabu (13/5). Koreksi ini dipicu oleh keputusan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menghapus 18 saham asal Indonesia dari daftar indeksnya.

Pelemahan ini terjadi akibat tekanan jual investor asing yang kehilangan minat pada saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Finance, sejumlah saham unggulan mengalami koreksi signifikan akibat sentimen negatif tersebut.

Daftar Pelemahan Saham Terdampak
Nama EmitenKode SahamPersentase PenurunanHarga Penutupan
Amman Mineral Internasional TbkAMMN9,09%Rp 3.700
Barito Renewables Energy TbkBREN11,36%Rp 3.200
Dian Swastatika Sentosa TbkDSSA11,16%Rp 1.035
Chandra Asri Pacific TbkTPIA14,85%Rp 4.300
Petrindo Jaya Kreasi TbkCUAN10,05%Rp 850

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai hilangnya daya tarik saham tersebut menjadi alasan utama aksi jual asing. Investor global kerap menjadikan indeks MSCI sebagai acuan utama dalam menentukan portofolio investasi mereka di pasar modal Indonesia.

"Adapun pengumuman ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG sebab saham-saham yang dihapus ini kemungkinan besar akan kehilangan daya tarik di mata investor asing yang hanya berpatokan pada indeks MSCI," ujar Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas.

MSCI sendiri merupakan lembaga asal Amerika Serikat yang mengelola dana kelolaan (AUM) senilai US$ 21 triliun atau setara Rp 367.469 triliun. Meskipun IHSG memerah, para praktisi menilai reaksi pasar saat ini lebih moderat dibandingkan pengumuman transparansi pasar pada Januari 2026 lalu.

Co Founder PasarDana, Hans Kwee, menyatakan bahwa para pengelola dana pasif biasanya melakukan penyesuaian portofolio dalam jangka pendek. Ia menekankan bahwa faktor teknis dan likuiditas lebih mendominasi alasan penghapusan emiten dibandingkan masalah kinerja fundamental perusahaan.

"Perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut," ungkap Hans Kwee, Co Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia masih berada dalam batas wajar. Pengawas pasar modal menyebutkan bahwa frekuensi dan volume transaksi tetap terjaga tanpa adanya tanda-tanda kepanikan massal dari para pelaku pasar.

"Kemudian tadi frekuensi dan volume serta nilai transaksi juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan, normal dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jadi ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus, katakanlah upaya menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian," ungkap Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.

Hasan menambahkan bahwa penurunan indeks pada pagi hari merupakan bagian dari konsekuensi proses perbaikan dan reformasi di pasar modal. Hingga saat ini, pihak otoritas terus memantau pergerakan harga saham untuk memastikan stabilitas pasar tetap terjaga.

"Alhamdulillah per hari ini rasanya tingkat penurunannya tidak signifikan," jelas Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.

Artikel terkait

Rekomendasi