IHSG Diprediksi Tertekan ke Level 6.918 Sepanjang Pekan Pertama Mei

IHSG Diprediksi Tertekan ke Level 6.918 Sepanjang Pekan Pertama Mei
Foto: Ilustrasi IHSG Diprediksi Tertekan ke Level 6.918 Sepanjang Pekan Pertama Mei.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan pekan ini, 4 hingga 8 Mei 2026, akibat tekanan sentimen global yang memicu aksi jual investor di pasar domestik. Analisis pergerakan pasar menunjukkan indeks cenderung bergerak dalam kondisi risk-off moderat di tengah memanasnya harga energi dunia.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 April menunjukkan IHSG telah merosot sebesar 19,55 persen sejak awal tahun 2026 hingga menyentuh level 6.956,81, sebagaimana dilansir dari Market. Penurunan signifikan ini membawa posisi indeks kembali ke level terendah sejak Juni 2025.

Kelesuan pasar modal dalam negeri diperburuk dengan aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai total Rp49,87 triliun sepanjang tahun berjalan. Faktor eksternal seperti ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik di Iran menjadi pendorong utama arus keluar modal tersebut.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan bahwa penurunan yang terjadi saat ini merupakan tekanan yang konsisten dan sistemik. Tekanan tersebut dipicu oleh ketidakstabilan nilai tukar rupiah serta kekhawatiran terhadap inflasi global yang persisten akibat naiknya harga energi.

"Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa. Ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten. Bulan April 2026 ditutup dengan penurunan 1,30%," kata David, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT).

David memproyeksikan pergerakan IHSG secara teknikal akan menguji area dukungan pada rentang 6.918 hingga 6.696. Meskipun kondisi pasar secara umum melemah, sektor energi dan minyak kelapa sawit (CPO) dinilai masih memiliki ketahanan fundamental untuk menghadapi gejolak pasar.

"Kondisi Selat Hormuz secara fundamental memberikan tekanan besaar berupa kenaikan biaya produksi bagi negara-negara net importir energi, yang pada gilirannya dapat memicu risiko inflasi serta menggerus daya beli masyarakat secara luas," tambahnya.

Berikut adalah rincian rekomendasi saham untuk periode perdagangan pekan ini:

EmitenRekomendasiTarget Harga (Rp)Stop Loss (Rp)
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI)Buy (Level 11.600)12.20011.300
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP)Buy on Pullback (1.680-1.700)1.8001.620
PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA)Buy (Level 1.785)1.9601.700

Saham AADI diproyeksikan akan menembus rekor harga tertinggi baru dengan volume perdagangan yang besar. Sementara itu, penguatan harga CPO global diharapkan menjadi katalis positif bagi kinerja LSIP di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi