IHSG Melemah ke Level 7.445 Akibat Tekanan Ekonomi Global

IHSG Melemah ke Level 7.445 Akibat Tekanan Ekonomi Global
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Level 7.445 Akibat Tekanan Ekonomi Global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup merosot 1,27 persen atau 95,64 poin ke level 7.445 pada perdagangan hari Kamis (23/4/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal serta kondisi domestik yang menekan pasar saham, seperti dilansir dari Investortrust.

Kondisi pasar global saat ini cenderung menghindari risiko akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta ekspektasi arah kebijakan moneter dunia. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai likuiditas global yang akan tetap ketat dalam jangka waktu lebih lama karena The Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun.

Sikap hati-hati para pemodal menjelang pengumuman kebijakan bank sentral Amerika Serikat tersebut turut memperdalam koreksi indeks. Faktor domestik berupa aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya juga ikut memperberat pergerakan pasar saham yang sedang sensitif.

"Selain itu, pelaku pasar juga cenderung wait and see menjelang pengumuman kebijakan The Federal Reserve pada 28ÔÇô29 April," ujar Elandry Pratama, Pengamat pasar modal.

Tekanan terhadap indeks saham domestik diperparah oleh depresiasi nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp17.286 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.11 WIB. Pelemahan mata uang ini meningkatkan persepsi risiko makro dan berpotensi menekan kinerja emiten yang memiliki utang valas atau ketergantungan impor.

"Kondisi ini sering kali mempercepat arus keluar dana asing, yang kemudian berdampak langsung pada penurunan indeks," kata Elandry Pratama.

Koreksi yang terjadi di pasar saham ini ternyata juga berjalan beriringan dengan pergerakan di pasar obligasi negara. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia untuk tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan dari posisi 6,58 persen menjadi 6,68 persen.

"Hal ini mendorong penyesuaian portofolio investor, di mana aset berisiko seperti saham dan obligasi cenderung dikurangi dan dialihkan ke instrumen defensif seperti deposito atau money market," ujar Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).

Fenomena perpindahan dana tersebut tidak lepas dari terjadinya capital flight di pasar obligasi. Kondisi ini dipicu pula oleh langkah lembaga seperti Bank Indonesia yang menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi global ke tingkat 3 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi