IHSG Melemah ke Level 6.318, Sektor Barang Baku Merosot Tajam

IHSG Melemah ke Level 6.318, Sektor Barang Baku Merosot Tajam
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Level 6.318, Sektor Barang Baku Merosot Tajam.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 52,18 poin atau mengalami penurunan sebesar 0,82% ke level 6.318,5 pada akhir perdagangan. Dilansir dari Investor Daily, total nilai transaksi di bursa saham domestik mencatatkan angka mencapai Rp 21,9 triliun.

Kondisi pasar menunjukkan sebanyak 510 saham mengalami penurunan, sementara 217 saham berhasil menguat dan 232 saham lainnya bergerak stagnan. Adapun volume perdagangan menyentuh 37,8 miliar saham dengan frekuensi transaksi yang tercatat sebanyak 2,4 juta kali.

Pelemahan indeks didorong oleh kemerosotan di sejumlah sektor, dengan sektor barang baku terkikis paling dalam sebesar 4,67%. Sektor transportasi juga anjlok 4,22%, diikuti sektor energi yang turun 2,65%, sektor barang konsumen primer 2,06%, sektor teknologi 1,38%, serta sektor perindustrian 1,27%.

Sebaliknya, hanya ada dua sektor saham yang mampu bertahan di zona hijau pada penutupan pasar. Sektor keuangan membukukan penguatan sebesar 1,21% dan sektor infrastruktur naik tipis sebesar 0,05%.

Pelaku pasar global saat ini sedang dibayangi oleh lonjakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Berdasarkan analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, kondisi ini dipicu oleh meningkatnya kecemasan terhadap inflasi akibat konflik bersenjata antara AS dan Iran.

Situasi tersebut mengubah ekspektasi pasar secara drastis dari yang semula memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed. Kini, muncul potensi kenaikan suku bunga kembali oleh Bank Sentral AS sebelum pergantian tahun.

Investor di dalam negeri juga menunjukkan sikap hati-hati di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pasar cenderung bersikap waspada menjelang pemungutan suara Senat AS terkait pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru.

Langkah antisipatif diambil oleh Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis points (bps) menjadi 5,25%. Kebijakan ini ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) sebagai upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, kebijakan domestik turut memengaruhi psikologis pasar setelah pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR. Kepala Negara menegaskan rencana pembentukan BUMN Khusus Ekspor yang mewajibkan seluruh penjualan komoditas sumber daya alam melalui satu pintu.

Daftar Saham Paling Untung dan Buntung

Meskipun performa indeks secara keseluruhan melemah, beberapa saham tetap mencatatkan lonjakan harga yang signifikan dan memberikan keuntungan besar bagi investor. Penguatan harga saham-saham pilihan ini bergerak di rentang 19% hingga 29% dalam satu hari perdagangan.

PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) memimpin jajaran saham teraktif dengan lonjakan 29,3% ke posisi Rp 194. Di tempat berikutnya, saham PT Super Energy Tbk (SURE) melesat 24,8% menjadi Rp 2.960 dan PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) melonjak 24,81% menuju level Rp 1.610.

Selanjutnya, kenaikan juga dialami oleh saham PT Inter Delta Tbk (INTD) yang meningkat 24,35% menjadi Rp 286. Saham PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) turut terangkat sebesar 19,75% hingga mencapai harga Rp 7.125.

Di tengah penguatan saham-saham tersebut, terdapat sejumlah emiten yang justru mengalami kemerosotan harga cukup dalam. Saham PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) longsor hingga 15% ke posisi Rp 510.

Penurunan tajam juga melanda PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang ambles 14,74% menjadi Rp 2.660 dan PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang jatuh 14,67% ke angka Rp 785. Kemudian, saham PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) terjungkal 14,66% menjadi Rp 396 serta PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) terkikis 14,59% ke level Rp 1.610.

Artikel terkait

Rekomendasi