IHSG Melemah ke Level 6.500 pada Perdagangan 19 Mei 2026

IHSG Melemah ke Level 6.500 pada Perdagangan 19 Mei 2026
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Level 6.500 pada Perdagangan 19 Mei 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke zona merah pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan data perdagangan RTI pada Selasa (19/5/2026), IHSG langsung merosot ke level 6.599 saat pasar dibuka.

Seperti dikutip dari Detik Finance, pergerakan indeks terus melanjutkan pelemahan sekitar lima menit setelah pembukaan. IHSG tertekan hingga menyentuh posisi 6.565,30 atau mengalami penurunan sebesar 33,93 poin (0,51%).

Kendati demikian, performa indeks sempat berbalik ke zona hijau pada pukul 09.15 WIB. IHSG terpantau menguat tipis 5 poin atau sekitar 0,05% ke level 6.604.

Selama sesi perdagangan tersebut, IHSG bergerak pada rentang tertinggi di level 6.613. Sementara itu, titik terendah indeks menyentuh posisi 6.560,12 dengan akumulasi pelemahan mencapai 24% sejak awal tahun.

Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 207 saham mengalami penurunan dan 272 saham bergerak menguat. Adapun 195 saham lainnya terpantau stagnan tidak mengalami perubahan harga.

Volume perdagangan yang dibukukan pada awal sesi mencapai 1,86 miliar saham. Aktivitas ini menghasilkan nilai transaksi atau turnover sebesar Rp 1,01 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 152.225 kali.

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih memberikan proyeksi mengenai laju indeks melalui hasil risetnya. Pergerakan IHSG pada hari ini (19/5) diperkirakan akan bervariasi.

Ratih menjelaskan bahwa indeks berpotensi bergerak dalam kisaran 6.550 hingga 6.700. Kondisi pasar domestik saat ini dipengaruhi oleh koreksi IHSG yang telah berlangsung selama 5 hari berturut-turut.

Selain itu, pasar reguler mencatat adanya aksi jual bersih atau outflow investor asing sebesar Rp 460 miliar pada 18 Mei 2026. Nilai tukar rupiah spot pada tanggal yang sama juga sempat menembus level psikologis baru di angka Rp 17.700/USD.

"Namun, BI telah melakukan 7 langkah intervensi rupiah, di antaranya aktif di pasar valas, peningkatan yield SRBI 6,21-6,45% tenor 6 bulan hingga 12 bulan (13/5/2026) total posisi SRBI melesat ke Rp 957,91 triliun (30/4/2026), pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian dolar AS maksimal US$ 25 ribu, menjaga likuiditas perbankan, penguatan intervensi di pasar offshore (NDF), serta peningkatan pengawasan aktivitas perbankan dan korporasi (Mulai 1 Juni 2026, mewajibkan maksimal 50% DHE SDA disimpan selama 12 bulan ke Bank Himbara dan dikonversikan ke rupiah (kecuali sektor minyak dan gas dengan penempatan 3 bulan). Pekan ini, pasar menanti rilis suku bunga BI-Rate yang diproyeksikan naik 25 bps untuk menjaga rupiah," tulis Ratih Mustikoningsih.

Sentimen Pasar Global dan Regional

Faktor eksternal dari bursa mancanegara turut memengaruhi laju indeks saham domestik. Bursa Wall Street Amerika Serikat ditutup cenderung melemah terbatas pada 18 Mei 2026.

Pelemahan terjadi pada indeks Nasdaq sebesar -0,51% serta indeks S&P 500 yang terkoreksi tipis -0,07%. Pelaku pasar global kini fokus menantikan rilis laporan keuangan kuartalan dari Nvidia (Nasdaq: NVDA).

Laporan keuangan tersebut menjadi acuan penting untuk memproyeksikan kelanjutan tren kenaikan saham sektor kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah masih terus dipantau oleh pasar.

Amerika Serikat dan Iran dilaporkan melakukan perubahan pada draf proposal masing-masing untuk mengakhiri konflik. Presiden Trump juga memutuskan menunda rencana serangan yang dijadwalkan berlangsung pada hari ini (19/5/2026).

Perkembangan kondisi politik tersebut langsung berdampak pada sektor komoditas dunia. Tren kenaikan harga minyak mentah Brent menjadi tertunda setelah mengalami koreksi sebesar -2,18% ke level USD 109 per barel.

Artikel terkait

Rekomendasi