IHSG Melemah ke Level 6.338 pada Awal Perdagangan 20 Mei 2026

IHSG Melemah ke Level 6.338 pada Awal Perdagangan 20 Mei 2026
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Level 6.338 pada Awal Perdagangan 20 Mei 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan pada awal pembukaan pasar modal. Dilansir dari Suara, indeks saham domestik tersebut langsung merosot 0,51 persen menuju posisi 6.338 pada sesi perdagangan Rabu, 20 Mei 2026 pagi.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.06 WIB memperlihatkan pergerakan IHSG yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah dibuka pada zona merah di level 6.352. Aktivitas transaksi di lantai bursa mencakup perdagangan 2,23 miliar saham.

Nilai transaksi yang dibukukan pada waktu tersebut mencapai Rp 1,19 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 170.500 kali. Sebanyak 183 saham tercatat bergerak naik, 348 saham mengalami penurunan, sedangkan 428 saham lainnya stagnan.

Beberapa emiten yang menempati jajaran saham teraktif atau Top Gainers meliputi CSMI, MIX, INDX, PIPA, dan ASPI. Di sisi lain, saham-saham yang merosot ke kelompok Top Loser di antaranya adalah RELI, WBSA, GSMF, BAYU, serta SMMT.

Laju IHSG diproyeksikan masih berada di bawah tekanan setelah pada sesi sebelumnya mengalami kejatuhan yang cukup dalam. Faktor utama yang memicu sentimen negatif ini adalah kekhawatiran investor terkait rencana pembentukan badan khusus pengelola ekspor komoditas strategis.

Berdasarkan laporan riset dari BRI Danareksa Sekuritas dalam edisi Sapa Mentari 20 Mei 2026, IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 3,46 persen ke level 6.370 pada perdagangan terakhirnya. Meski demikian, investor asing tetap membukukan aksi beli bersih senilai Rp306 miliar di pasar reguler.

Pihak BRI Danareksa Sekuritas memaparkan bahwa tekanan jual berfokus pada saham-saham sektor komoditas dan grup konglomerasi. Hal ini terjadi pasca beredarnya rumor mengenai pembentukan badan pemerintah yang akan mengelola ekspor komoditas seperti batu bara, crude palm oil (CPO), hingga mineral logam.

"Tekanan pasar terutama berasal dari saham-saham konglomerasi dan komoditas seiring munculnya rumor terkait rencana pemerintah membentuk badan khusus pengelola ekspor komoditas strategis," tulis riset tersebut.

Isu regulasi baru ini menimbulkan kekhawatiran mengenai adanya potensi pengetatan harga jual komoditas. Para pelaku pasar menilai kebijakan tersebut dapat menekan margin keuntungan serta profitabilitas dari emiten-emiten yang bergerak di sektor terkait.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebenarnya telah memberikan bantahan resmi terhadap kabar burung tersebut. Namun, respons negatif dari pelaku pasar terlanjur bergulir dan memicu aksi lepas saham secara massal di bursa domestik.

Proyeksi Teknikal dan Pengaruh Global

Secara analisis teknikal, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG masih rentan terkoreksi. Rentang pergerakan indeks hari ini diprediksi berada di sekitar area support pada level 6.322 dan area resistance di posisi 6.635.

Selain faktor domestik, dinamika pasar juga dipengaruhi oleh penantian hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Suku bunga acuan atau BI Rate diproyeksikan akan mengalami kenaikan sebesar 25 basis poin hingga menyentuh angka 5 persen.

Investor juga tengah mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto yang berkaitan dengan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Agenda ini dinilai memiliki dampak langsung pada sentimen pasar saham dalam jangka pendek.

Sentimen dari pasar global ikut memperberat langkah IHSG seiring dengan kompaknya pelemahan di bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street pada penutupan perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau turun 0,65 persen ke level 49.363,88.

Pelemahan juga melanda indeks S&P 500 yang terkoreksi sebesar 0,67 persen menuju level 7.353,61. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi ikut merosot sebesar 0,84 persen dan mendarat di posisi 25.870,71.

Menghadapi kondisi pasar saat ini, BRI Danareksa Sekuritas mengeluarkan rekomendasi beberapa saham pilihan untuk dicermati pelaku pasar. Saham-saham tersebut meliputi Telkom Indonesia (TLKM), Mayora Indah (MYOR), serta Solusi Tunas Pratama (SUPA).

Artikel terkait

Rekomendasi