Tekanan besar masih membayangi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Seperti dikutip dari Suara, indeks saham domestik menyudahi perdagangan harian dengan koreksi di level 6.318 setelah tergelincir akibat maraknya aksi lego saham oleh para pelaku pasar sejak awal perdagangan pada Rabu (20/5/2026).
Pada pembukaan pasar, IHSG sebenarnya sempat bergerak optimistis di level 6.352,202. Pergerakan tersebut terus merangkak naik hingga menyentuh titik tertinggi di posisi 6.459,556 sebelum kendali tren beralih ke tangan para penjual.
Menjelang akhir paruh pertama, tepatnya pukul 11.22 WIB, IHSG sempat ambles hingga 2,28 persen. Indeks kemudian bertengger di level 6.333,17 pada jeda siang dan akhirnya menyerah di zona merah meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda perlawanan.
Menyikapi fluktuasi ini, tim riset dari BRI Sekuritas mengonfirmasi bahwa tren penurunan (bearish) masih memegang kendali atas pergerakan indeks. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) mengindikasikan sinyal negatif yang solid.
Posisi indeks saat ini terus menguji batas psikologis bawah (support) di level 6.322. Berdasarkan proyeksi teknikal dari BRI Sekuritas, jika volume tekanan jual tidak kunjung mereda dalam beberapa hari ke depan, IHSG berisiko mengalami penurunan lebih dalam menuju rentang support berikutnya di level 6.100 hingga 5.900.
Sementara itu, situasi sebaliknya diperlukan untuk membalikkan arah menjadi tren naik. Indeks harus mampu menembus titik pembatas atas (resistance) terdekat yang berada di area 6.635.
Sentimen Pemicu Kelesuan Pasar Modal
Kelesuan pasar modal domestik saat ini dipicu oleh akumulasi beberapa sentimen eksternal dan internal yang kurang menguntungkan bagi iklim investasi. Faktor pertama adalah depresiasi nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh angka Rp17.723 per dolar AS.
Kondisi mata uang garuda tersebut memicu kecemasan para pemodal. Dampaknya, laju masuknya modal internasional menjadi tertahan sekaligus meningkatkan risiko hengkangnya dana asing (capital outflow) dari pasar keuangan dalam negeri.
Faktor kedua adalah wacana regulasi ekspor terpusat melalui lembaga negara yang memicu kekhawatiran pelaku pasar. Kebijakan ini dikhawatirkan akan membatasi kebebasan penetapan harga komoditas serta menggerus margin keuntungan bersih para emiten eksportir, sehingga menekan kinerja saham sektor komoditas.
Katalis negatif tambahan datang dari penundaan indeks FTSE Russell. Keputusan lembaga pemeringkat global tersebut yang kembali menangguhkan proses perombakan bobot indeks secara menyeluruh (full index re-ranking) serta penundaan kalkulasi emiten perdana (IPO) baru hingga paling cepat September 2026 turut membatasi ruang gerak indeks bursa saham nasional.