Pasar keuangan domestik mengalami tekanan berat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah selama delapan hari perdagangan berturut-turut hingga Kamis (21/5/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual saham secara masif oleh investor asing di tengah ketidakpastian pasar global.
Koreksi yang terjadi pada perdagangan Kamis mencapai lebih dari 1 persen, seperti dilansir dari Suara. Angka tersebut membawa indeks saham domestik menyentuh level terendah dalam periode lebih dari satu tahun terakhir.
Keterpurukan pasar modal tetap terjadi meskipun Bank Indonesia telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. Kebijakan mengejutkan tersebut mengerek BI Rate ke angka 5,25 persen demi menjaga stabilitas moneter.
Kenaikan suku bunga acuan tersebut dinilai belum mampu memulihkan kepercayaan pasar karena nilai tukar rupiah terpantau masih tertekan. Mata uang Indonesia bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Para pelaku pasar modal juga mencermati sentimen domestik terkait rencana sentralisasi ekspor komoditas melalui badan baru bentukan pemerintah. Selain itu, potensi perubahan regulasi pada sektor sumber daya alam turut menambah kekhawatiran investor.
Kepanikan pasar diperparah oleh adanya sentimen rebalancing indeks global MSCI yang diperkirakan memicu kelanjutan aksi jual saham berkapitalisasi besar. Secara akumulatif, IHSG tercatat telah merosot lebih dari 15 persen dalam delapan hari perdagangan terakhir.