IHSG Melemah Delapan Hari Beruntun ke Level 6.094

IHSG Melemah Delapan Hari Beruntun ke Level 6.094
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah Delapan Hari Beruntun ke Level 6.094.

Pasar saham Indonesia belum mampu keluar dari tekanan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk di zona merah. Pelemahan ini mencatatkan tren negatif yang terjadi selama delapan hari perdagangan berturut-turut.

Dikutip dari Investasi, IHSG longsor signifikan sebesar 223,55 poin atau anjlok 3,54% ke posisi 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Performa buruk pasar domestik ini berbanding terbalik dengan situasi di sejumlah bursa Asia yang justru bergerak menguat.

Indeks Kospi di Korea Selatan melonjak 8,42% ke level 7.815, diikuti indeks Nikkei 225 Jepang yang melaju 3,14% ke level 61.684. Sementara itu, indeks Taiex di Taiwan juga mencatatkan kenaikan sebesar 3,37% ke posisi 41.368.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengungkapkan lima faktor utama yang memicu kemerosotan IHSG. Faktor pertama adalah sensitivitas pasar terhadap rencana kebijakan baru pemerintah mengenai pemusatan ekspor komoditas strategis satu pintu melalui BUMN atau Danantara.

"Investor khawatir terhadap potensi intervensi yang lebih besar terhadap mekanisme bisnis emiten komoditas," kata Alrich kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).

Faktor kedua dipicu oleh aksi jual investor asing yang terus melakukan pengurangan risiko di pasar negara berkembang. Tekanan terhadap mata uang rupiah serta ketidakpastian arah fiskal memperbesar persepsi risiko terhadap investasi di Indonesia.

Perlambatan ekonomi domestik menjadi penyebab ketiga karena pasar mulai mendeteksi pelemahan daya beli masyarakat. Selain itu, pertumbuhan kredit di sektor riil dinilai belum cukup agresif untuk menggerakkan indeks.

Penyebab keempat adalah aksi ambil untung terhadap saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar yang valuasinya sudah premium. Terakhir, koreksi pada sektor komoditas dan perbankan yang memiliki bobot besar turut menekan pergerakan indeks secara keseluruhan.

Saat ini, IHSG berhasil menutup gap area 6.092 dan mampu bertahan di atas level tersebut hingga penutupan pasar. Peluang rebound menuju pivot area 6.250 masih terbuka dengan catatan tidak ada gejolak baru dari kebijakan domestik maupun global.

Namun, jika indeks terus melorot hingga di bawah level 6.000, kondisi ini akan memvalidasi tren bearish lanjutan menuju critical support pada level 5.900.

"Pasar sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Jika muncul persepsi bahwa arah kebijakan pemerintah terlalu mengintervensi terhadap mekanisme pasar atau menimbulkan kekhawatiran terhadap iklim investasi, maka risk premium Indonesia bisa meningkat," tambah Alrich.

Dampak penahanan ekspansi oleh investor asing diprediksi bisa menekan mayoritas sektor industri di Indonesia.

"Mudahnya, saat ini bisa dikatakan pelaku pasar sedang krisis kepercayaan terhadap kebijakan domestik," jelasnya.

Pemulihan IHSG ke depan akan bergantung pada stabilitas rupiah, kejelasan kebijakan pemerintah, penurunan tensi geopolitik, serta potensi penurunan suku bunga The Fed. Faktor penunjang lain mencakup perbaikan kinerja emiten semester II dan kembalinya dana asing ke saham berkapitalisasi besar.

Investor disarankan menerapkan strategi defensif dengan memilih saham fundamental kuat yang tidak sensitif terhadap kebijakan. Pelaku pasar jangka pendek juga diminta disiplin dalam manajemen risiko karena volatilitas pasar masih tinggi.

Alrich merekomendasikan saham sektor barang konsumsi yang defensif untuk diperhatikan, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan target harga Rp 7.000 dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada target harga Rp 1.980 per saham.

Artikel terkait

Rekomendasi