IHSG Terkoreksi ke Level 6.956 akibat Konflik Global dan Sentimen Domestik

IHSG Terkoreksi ke Level 6.956 akibat Konflik Global dan Sentimen Domestik
Foto: Ilustrasi IHSG Terkoreksi ke Level 6.956 akibat Konflik Global dan Sentimen Domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sebesar 2,03 persen ke level 6.956 pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026). Penurunan signifikan ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif dari pasar global dan kondisi ekonomi domestik yang terjadi secara bersamaan, sebagaimana dilansir dari Money.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengidentifikasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai faktor eksternal utama yang menekan pasar. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia hingga melewati ambang 100 dollar AS per barrel, yang kemudian memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi di tingkat global.

ÔÇ£Sentimen utama memang berasal dari memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendorong lonjakan harga minyak hingga menembus 100 dollar AS per barrel, sehingga meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran moneter,ÔÇØ ujar Hendra Wardana, Founder Republik Investor.

Situasi geopolitik tersebut mendorong investor global melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 1,65 triliun sebagai bentuk penghindaran risiko. Selain itu, nilai tukar rupiah turut tertekan oleh penguatan dollar AS hingga menyentuh kisaran Rp 17.380 per dollar AS.

Ketidakpastian juga diperparah oleh sikap internal bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang tetap menahan suku bunga. Dinamika ini menyebabkan aset berisiko seperti instrumen saham menjadi kehilangan daya tarik di mata para pelaku pasar modal.

ÔÇ£Keputusan The Fed yang menahan suku bunga namun menunjukkan perpecahan arah kebijakan turut memperkeruh sentimen karena pasar melihat ketidakpastian arah suku bunga ke depan, ditambah lonjakan yield obligasi global yang membuat aset saham menjadi kurang menarik,ÔÇØ papar Hendra Wardana, Founder Republik Investor.

Dari sisi internal, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia memberikan tekanan pada daya beli masyarakat serta meningkatkan beban biaya produksi bagi industri. Hendra memproyeksikan IHSG masih akan bergerak fluktuatif pada pekan depan dengan kecenderungan melemah secara terbatas.

Meskipun pasar sedang tertekan, valuasi saham unggulan yang kini berada di area undervalued dinilai mulai menarik bagi investor jangka panjang. Sektor energi, agribisnis, dan jasa energi menjadi pilihan taktis dengan beberapa saham potensial seperti BUMI, LSIP, JPFA, dan HUMI.

Artikel terkait

Rekomendasi